Blogging,  Experience

Menulis Sebagai Terapi

Terapi menulis

Bergabung di salah satu grup yang digawangi oleh founder Indscript, Mba Indari. Sejauh ini membawa saya pada banyak hal yang menarik. Bukan hanya dari ketertarikan dalam topik yang dibahas saja, tapi juga bobot manfaat yang dibagi, seperti seminar Menulis Sebagai Terapi ini. Dengan kegiatan yang bertujuan untuk membantu para perempuan agar bisa lebih optimal lagi memainkan peran dalam kehidupan diri sendiri, keluarga serta kehidupan sosial masyarakat.  Sebuah niat dan tujuan yang sangat baik, apalagi beberapa kali training yang diadakan selalu bermanfaat baik untuk penulis maupun pebisnis.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi, topik seminar sehari tentang menulis. Adakah diantara pembaca yang gemar menulis? Apakah masih menulis di buku diary? Beberapa orang ada yang memutuskan untuk melanjutkan menulis diari sebagai upaya tempat untuk mencurahkan isi hati atau isi pikiran. Ada juga yang menulisnya panjaaang sekali seperti artikel di status facebook, kemudian langsung dihapus sebelum sempat di publish.

Namun, menurut Mba Anna Farida, menulis kisah hidup yang sebenarnya ingin dirahasiakan menjadi sebuah buku itu juga sebuah ide yang tidak buruk. Dan meski memilih untuk menulis sebagai upaya menumpahkan emosional seperti marah, sedih, atau kecewa. Kemudian dihapus kembali, pun tidak masalah. Sebab hal tersebut bisa membuat kita lega serta ketika menulis otot kita juga terlatih. Pun, kita akan merasa nyaman tanpa harus ketakutan akan terbongkar rahasia atau tulisan curhatan tersebut.

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, bisa saja pengalaman yang sebenarnya ingin kita rahasiakan kita tulis dan dijadikan artikel atau buku. Bisa dikemas dalam bentuk buku fiksi, dimana bisa diambil sebagian saja pengalaman kita atau mengambil beberapa pengalaman dari karakter tokohnya saja. Juga bisa dkemas dalam bentuk buku non fiksi, dimana kisah kita bisa saja menjadi inspirasi atau motivasi bagi pembaca. Karena pembaca dapat belajar dari pengalaman Anda.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan apa-apa saja hal yang diperlukan untuk memulai Menulis Sebagai Terapi ini. Silakan disimak.

1. Awali dengan disiplin menulis. Luangkan waktu 5-10 menit saja untuk menulis.

2. Abaikan saja dulu tata bahasa. Kalau belum menulis sudah pusing memikirkan tata bahasa, yang ada kita tidak bebas menulis semua yang ingin kita tuangkan. Jadi, tulis saja, bebas saja.

3. Kumpulkan tulisan yang sudah selesai, JANGAN DIBACA ULANG.

4. Tulis terus dan terus, ulangi langkah-langkah sebelumnya.

5. Mulailah baca ulang setelah Anda memiliki 30-40 kisah pendek.

6. Dan semestinya ketika memulai menulis kisah ke-41 akan lebih mudah.

Jadi, kegiatan menulis dengan menuangkan hal-hal yang berkelebat di dalam pikiran atau membelenggu ruang batin, seharusnya menjadikannya menyenangkan. Bukan sekadar ingin menjadi penulis, tapi juga ingin menjadi tambah bahagia dengan menulis. Karena pada langkah-langkah berikutnya, setelah kita mulai terbiasa menulis, kita bisa membagikan kebaikan dari tulisan kita kepada orang lain.

Jangan lupa, untuk tetap konsisten menulis dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Disertai dengan kemauan belajar pada diri sendiri agar tulisan yang kita buat sarat dengan makna untuk pembaca. Serta bangunlah penilaian yang baik terhadap diri kita. Dan yakinlah bahwa Semua Orang Bisa Menulis. 

Sehingga tidak ada lagi beban ketika kita ingin menuliskan apa saja yang menjadi keresahan kita. Selamat mencoba, dan selamat menikmati proses menulis. Semoga tulisan saya ini juga bisa bermanfaat bagi pembaca.

Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: