Pertemuan Singkat Dengan Blogger Madura Yang Membawa Semangat Dalam Diri Ini

Kopdar

Pernahkan memimpikan sesuatu, tentang banyak hal yang berkaitan dengan kesuksesan dalam bidang yang digeluti. Namun, tidak tahu, apa dan bagaimana langkah yang tepat dalam meraihnya? Pernahkah berpikir bahwa pertemuan singkat mampu membuka mata selebar-lebarnya pada fakta dan kenyataan yang lebih konkrit?

Langit pagi itu cukup cerah, sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi Whatsapp. Berisi pesan dari seorang kawan sesama blogger, Mba Dian, beliau mengabarkan bahwa dirinya akan menghabiskan liburan di Bekasi. Sontak saya bersemangat usai melihat sepintas lokasi yang dibagi melalui ruang pesan whatsapp. Mutiara Gading juga, gumam saya. Langsung saya bangun dan segera bersiap usai menghabiskan waktu di atas tempat tidur setelah subuh. Udara pagi hari kala liburan hampir tiba itu seperti cinta yang terlalu posesif untuk melepaskan.

Tak lupa menyesap secangkir kopi, saya mulai mencari titik pastinya dimana Mba Dian tinggal. Setelah saya lihat lagi, sedikit demi sedikit, ada yang aneh. Ada perasaan kebingungan menyeruak relung kalbu. Kenapa kejanggalan ini tidak bisa saya lihat secara langsung, kesal saya dalam hati. Setelah menatap lamat-lamat, ternyata tempat yang dimaksud bukanlah lokasi perumahan yang sama dengan saya. Tempat yang dibagikan oleh Mba Dian, lokasinya berjarak 23 kilometer dari saya. Dekat, karena sama-sama Bekasi. Namun, tidak cukup dekat untuk saya yang sering kali muter-muter di tempat yang sama. Iya, saya memang sering kali kesasar setiap bepergian.

Ini kedua kalinya saya dan Mba Dian berencana untuk bertemu. Bukan hal yang mudah, karena memang saya tipe yang sulit untuk ditebak jadual sehari-harinya. Waktu itu, beberapa tahun yang lalu, saya sempat merasa sedih karena tak mampu mendatangi tempat mba Dian berada, di Summarecon Bekasi. Sayang sekali memang, tapi apa daya, kehidupan lain menuntut keberadaan saya lebih dulu. Alhasil, rencana beberapa tahun lalu hanyalah tinggal rencana. Dan hari itu, ketika mentari sedang ceria-cerianya menyapa, adalah kesempatan kedua bagi saya.

Baca Juga

Berbincang sejenak dengan mba Dian, menggambarkan bahwa kondisi masih belum memungkinkan untuk hari itu bertemu. Qodarullah, kesempatan kembali terbuka bagi saya, mba Dian baru saja membalas pesan saya dan mengabarkan bahwa dirinya sedang berada di Tangerang. Setidaknya, masih terbuka kesempatan itu. Sesuatu yang memang ditunggu-tunggu dan diusahakan. 

Ketika sore hari membiarkan malam untuk segera menyapa, datanglah kabar itu. Kabar yang memang cukup mendesak dan tiba-tiba, bahwa kami harus bertolak ke Ponorogo besok. Untuk mengantar keponakan. Liburannya yang hanya beberapa hari saja di Bekasi ini, memang belum bisa memuaskan saya. Apalagi, mengingat dia kehabisan tiket untuk kembali ke pondok pesantren tempatnya menuntut ilmu. Ini pun kesempatan untuk saya, menghabiskan waktu bersama ponakan yang entah bagaimana ceritanya sudah beranjak dewasa, betapa waktu mengingatkan saya bahwa segalanya berjalan sesuai kehendakNya.

Apalagi yang bisa saya lakukan? Dihinggapi kegalauan antara dua pilihan bukanlah hal yang mudah. Terlebih, keduanya memiliki prioritas yang sama. Hati saya kelu dan sedih, bukan karena ini pertemuan terakhir dengan salah satu dari mereka. Bukan pula karena ada desakan-desakan atau paksaan lain yang menuntut untuk wajib bertemu. Tapi, karena ini adalah kesempatan yang tidak mungkin lagi saya abaikan. Betapa hari itu saya terlampau bingung, baru dihadapkan dua pilihan, saya seketika mengernyitkan dahi, menimbang-nimbang hingga akhirnya saat tengah malam tiba, jalan keluar itu didapat.

***

Mendung tampak menggelayut, membuat suasana Bekasi tampak lebih adem dan nyaman. Meski sedih pun menyapa, karena hujan jarang sekali turun di kota ini. Saya sudah mulai berangkat dengan membawa beberapa tas besar membersamai. Bertolak ke beberapa tempat sebelum berangkat ke Ponorogo. Salah satunya, mengunjungi rumah tempat mba Dian menetap selama liburan. Berbekal aplikasi peta pada gawai pintar, sampailah kami di dekat perumahan yang pernah dibagikan oleh mba Dian.

Suara di ujung telpon membuat saya ingin tertawa, bukan karena lelucon tapi karena saya merasa WAH dengan logat Madura yang kental. Benar, Mba Dian adalah seorang Blogger dari Madura. Pertemuan hari itu tiba, saya sempat berdebar, takut kalau-kalau mba Dian merasa aneh denganku. Merasa tak nyaman dengan kehadiranku seperti kebanyakan orang lainnya. Namun, ketika kakiku menjejak ke dalam rumah milik adiknya, saya merasakan kehangatan kekeluargaan menyapa. Ah, saya jadi ingin meneteskan airmata, karena baik mba Dian dan adiknya, menyapa kami dengan sangat ramah dan tulus.

Perasaan saya memang terkadang terlalu sensitif, bisa menjadi kelebihan maupun kekurangan sekaligus. Suatu kali, saya bisa merasakan seseorang tampak tak nyaman denganku. Kali lain, saya bisa merasakan ketidak-tulusan yang dibalut kepura-puraan, sehingga membuat dada saya sesak ingin sekali kembali ke rumah. Dan, pertemuan dengan mba Dian, justru membawa perbincangan demi perbincangan mengalir dengan lancar. 

Ah, mba Dian, saya lupa meminta maaf jikalau perbincangan kemarin membawa rasa sakit hati meski sedikit.

Maklum, pertemuan kami terlampau singkat. Saya diwajibkan untuk segera berangkat ke tempat lain demi menjejakkan kaki ke kota lain di luar Bekasi. Sejenak, saya berharap, semoga saja akan ada pertemuan-pertemuan lainnya yang memungkinkan kami bisa berbincang lebih lama. Tapi, ada banyak yang saya syukuri dari perbincangan kami kemarin.

  • Tentang betapa hasil dan usaha menuntut perbandingan yang seimbang. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Demikian pula, tidak ada usaha yang tidak menghasilkan.
  • Kami berbincang pula mengenai, betapa ekstrimnya suasana saat ini. Tidak kondusif untuk mendidik anak-anak agar tidak terlampau berlebihan. Betapa beratnya mendidik anak-anak ketika lingkungan tidak lagi bisa sesuai dan sejalan dengan apa yang ingin diterapkan.
  • Bahwa memilih sekolah untuk pendidikan ke jenjang selanjutnya, tidak hanya berdasarkan seberapa favorit sekolah tersebut, tapi juga seberapa mampu mereka menyediakan lingkungan yang kondusif.

Yang menarik bagi saya adalah ketika mba Dian bercerita mengenai perjalanannya selama mengikuti event-event yang menuntutnya berpisah dengan anak-anak. Saya membayangkan, akankah Allah mengizinkan saya ikut serta dalam event yang menarik seperti itu? Hanya Allah yang tahu masa depan saya. Tapi, tidak ada terselip rasa iri dalam dada ini kala mendengarkan kisah yang dituturkan langsung oleh mba Dian.

Memang, saya terlalu menggemari diceritakan, jadi setiap ada yang bercerita tentang apa saja, selalu membawa antusias dalam diri saya. Begitulah, kenapa pertemuan kami ini spesial, karena orang yang saya temui ini spesial dan juga waktu yang diberikan Allah pun spesial. Apalagi empunya rumah benar-benar mengingatkan saya untuk totalitas sepertinya dalam menjamu tamu. Ini yang juga saya temui dari kakak saya yang berasal dari Madura juga, betapa beliau juga totalitas kala menjamu tamu. Apakah ini tradisi yang mendarah daging dalam diri orang-orang Madura? Ah, saya jadi ingin sekali berkunjung ke Madura.

Terimakasih mba Dian, untuk pertemuan dan obrolan singkatnya. Tahun depan, saya mulai bersemangat untuk tetap menjadi diri saya dan tetap berusaha semampu saya. Karena, seperti yang engkau bicarakan padaku kemarin, tidak ada usaha yang akan mengkhianati hasil. Semoga Allah menginzinkan kita bertemu lagi suatu hari nanti. Love you, Mba Dian.

Diane Suryaman

Blog : http://www.dianesuryaman.com/

Facebook : Dian Ekawati Suryaman

Twitter : @luvnareskinar

Instagram : dianesayank

Written by

Blogger – Reader – Writer – Amateur Photographer – Reviewer – BuzzerFor more information about me kindly please visit this link : About on Top Menu. Bussiness Inquiry or more information please send your email to : ipehalena@gmail.com .

Leave a Reply

%d bloggers like this: