Experience

Di Balik 11 Januari Ada Kenangan Yang Abadi

11 januari

Terkadang, ingatan akan lekang oleh kehidupan rutin. Namun, sebentuk tanda-lah yang nanti mengingatkan ada kenangan apa di baliknya.

Adzan dzuhur sudah terdengar. Para lelaki sudah memadati ruang di dalam Masjid, beberapa masih ada yang duduk santai di luar. Cuaca panas dan gerah mendera.

Kertas kalender bergoyang mesra terkena sapuan angin yang pelan. Menampilkan tanggal hari ini, 11 Januari.

Jika Armand Maulana menyanyikan lagunya dengan senandung ceria, karena bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahan.

Di rumah kami, siang itu, yang terdengar adalah ungkapan yang mencoba menenangkan gemuruh yang tak tampak. Belasan pelayat bertandang ke rumah, sambil mengelus-elus pundak atau punggung kami satu-persatu.

Sebenarnya, perpisahan kami dengan mendiang Papah terbilang cukup tak banyak drama. Pasalnya, semua keluarga seolah sudah diberi kesiapan sendiri. Tidak ada yang tiba-tiba, apalagi tanpa persiapan.

Bahkan, perlengkapan seperti mobil jenazah, lokasi makam dan tempat untuk jenazah di rumah, sudah disiapkan beberapa jam sebelum beliau dinyatakan sudah tiada.

Mungkin, banyak yang akan mengatakan, “Wah, dibunuh, ya?” atau berpikir, “mendahului takdir.” Namun, apa yang kami lakukan dengan persiapan adalah sebuah bentuk kerelaan kami berpisah dengan lelaki yang cukup tegas dan tidak suka dengan hal bertele-tele semasa hidupnya.

Kenangan Tahun Baru 2011

Kala itu pesta kembang api masih meriah. Beberapa hari atau minggu sebelumnya, suara ledakan demi ledakan petasan sudah terdengar dari segala penjuru. Suasana pergantian tahun seolah menyapa, sambil melambaikan tangan.

Hari itu, semua anak mendiang Papah berkumpul. Berbincang satu sama lain, berkelakar sambil memperhatikan para krucils yang tengah bermain di dalam rumah. Memastikan tidak ada yang berebutan mainan apalagi bisa mendatangkan tangisan.

Belakangan ini, Papah memang sering mengeluh sakit di seluruh tubuhnya. Nafsu makannya mulai menurun, tubuhnya cenderung gemuk. Tapi, jalannya sulit.

Sekitar 8 tahun yang lalu, Papah didiagnosa oleh dokter, usianya tak lama lagi. Hanya 5 tahun saja tenggat perhitungan dokter. Namun, Allah berkata lain, beliau melewatinya selama 8 tahun.

Penyakit Sirosis yang dideritanya, pernah membuat Papah pucat pasi hingga muntah darah dan buang air besar darah. Tubuhnya membengkak, waktu itu, seolah obesitas karena lemak. Setiap malam, mengeluhkan rasa sakit sekujur tubuhnya.

Itu terjadi 8 tahun yang lalu, saat saya menghitungnya di tahun 2011. Dulu, Papah tidak menerima tawaran cangkok hati. Bahkan, golongan darah yang cocok saat Papah kehabisan darah, hanya darah milik Mamah saja. Seolah menjadi pengikat keduanya sebagai satu-kesatuan.

Masa-masa itu telah berlalu. Masa sedih dan perjuangan yang cukup panjang dan terasa sangat lama. Mendatangkan duka yang sering dibalut dengan suka agar tak terlalu lelah hati ini mengisahkan kesedihan.

Tepat sebelum bunyi petasan serentak, kami baru menyadari satu hal, itu pun tampak seperti terlambat. Bahwa, Papah tak bergabung bersama kami di teras depan rumah. Biasanya, ketika anak-anaknya datang ke rumah, Papah akan senang duduk bercengkrama meski sesekali akan masuk ke dalam kamar karena sering tak betah mengobrol lama-lama.

Ketika tahun baru sudah lewat, petasan yang bunyinya membuat debaran jantung seolah berlari-lari, kemudian mereda. Kami membubarkan barisan, ada yang pulang ke rumahnya. Ada yang masuk ke dalam kamar. Ada pula yang tengah mengisi perut sebelum tidur.

Di tahun baru itu, kami membukanya dengan kejadian mengejutkan di kamar mandi. Sewaktu Papah berada di kamar mandi bersama Mamah yang menemani. Sebab tubuh Papah sudah semakin lemah dan tampak semakin tak seimbang. Teriakan Mamah terdengar dari dalam kamar mandi.

Papah pingsan. Kami semua sontak heboh dan mencoba untuk menolong Mamah yang menahan tubuh Papah agar tak jatuh. Kemudian melarikan ke Rumah Sakit Harum di pinggir Kalimalang.

Dokter mengatakan, bilirubin Papah sangat tinggi, juga kekurangan Albumin yang membuat dokter memutuskan memberikan suntikan Albumin secara rutin. Ternyata, tubuh Papah yang membesar, dikarenakan racun yang berkumpul dan membuat tubuhnya bengkak.

Melewatkan beberapa hari di Rumah Sakit, sampailah ketika kondisi Papah semakin turun. Inilah yang saya katakan tadi. Sebuah perpisahan yang sedikit demi sedikit agar yang ditinggalkan tak terkejut apalagi merana karena belumlah siap.

Semua keluarga dari Surabaya dan Bojonegoro memutuskan untuk datang ke Bekasi. Dokter mengatakan, jika alat pemicu detak jantungnya di lepas, maka itu bisa jadi pertanda perpisahan yang abadi.

Alasan inilah, yang membuat kami sudah bersiap, meski keputusan apakah Papah akan selamat dan melanjutkan hidup atau pergi ke tempat yang lebih baik, belumlah datang. Semua pihak, dari tim pengurus jenazah di Masjid hingga ambulance yang disiapkan dari yayasan tersebut sudah siap.

Tak berapa lama, dokter melepas alat pacu jantung. Benar saja, tidak lama jantung Papah semakin pelan, pelan, semakin pelan, kemudian hening. Dokter menunggu sebentar, untuk memastikan apakah ini benar atau tidak.

Setelah itu, beliau menyatakan bahwa Papah sudah meninggal.

Sungguh, menuliskan ini masih mendatangkan kesunyian tersendiri yang aneh dan ganjil.

Suasana saat itu tidak ada yang menangis. Karena, semua sudah siap. Namun, ketegaran ini hanya tampak dari luar saja. Sebuah kapal yang ditinggalkan nahkodanya harus terus berlayar meski badai datang.

Ketika Semua Selesai Dan Hidup Harus Berlanjut

Di pemakaman, semua berlangsung lancar. Sunyi, tidak banyak yang hendak berbisik-bisik kecuali kalimat-kalimat yang diucapkan selama pemakaman. Beberapa orang memastikan bahwa Mamah kuat dan tegar. Bahwa Mamah tidak akan lemas dan pingsan saat itu.

Ah, ya, benar. Hari itu, kala pemakaman Papah, kami semua cukup tegar. Meski tangis tak mampu kami tahan. Tapi, kami manusia boleh menangis semampu kami, kan?

Bahkan beberapa anak lelaki Papah yang sudah siap di liang lahat. Untuk menjemput tubuh Papah dan mengantarnya ke dasar tanah, untuk yang terakhir kalinya. Meski tampak merah mata mereka. Meski wajah satu persatu, tak mampu mengguratkan pesan apapun yang bisa diungkap.

Setelah kepergian Papah, keluarga dari Surabaya dan Bojonegoro mengadakan rapat kecil. Memilih siapa yang paling terakhir pulang, untuk menemani Mamah. Dua tiga hari pertama, kondisi rumah masih ceria. Ledakan dalam diri masing-masing belum terasa. Canda tawa masih menggema meski sesekali ada keheningan, terutama ketika Mamah dengan santainya mengucap, “nanti tak tanya Papah dulu.”

Berpuluh-puluh tahun menghabiskan waktu bersama sang suami, membuat Mamah terbiasa dengannya. Terbiasa bertanya dahulu sebelum mengambil keputusan, terbiasa bertanya dimana letak benda A atau B, terbiasa kemana-mana berdua. Dan semua itu seolah menjadi hal otomatis yang terus dilakukan, menyerupai pola dalam tindak-tanduk manusia.

Kemudian, menghabiskan waktu dengan beradaptasi, tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Beberapa kali, kami beradu pandang saat Mamah kembali melakukan pola tersebut. Waktu awal mula, kami masih mengingatkan padanya bahwa Papah sudah tiada. Namun, setelahnya kami bungkam dan membiarkan Mamah menata hatinya.

Dua bulan kemudian, rumah kembali ke keadaan seperti sedia kala, hanya saja berkurang satu yaitu kehadiran Papah. Mulailah, satu persatu semua bom meledak dalam diri masing-masing. Bom waktu, demikian banyak orang mengatakannya. Bom yang meledak di waktu yang tepat.

Bermula dari Mamah yang enggan keluar rumah. Enggan datang ke pengajian. Enggan menghadiri pertemuan rutin di RT. Enggan menyambangi rumah saudara-saudara yang dekat. Enggan menapakkan kakinya ke luar rumah, bahkan enggan bertamu ke tetangga sebelah rumah.

Bom pertama yang meledak dan membuat banyak orang memikirkan jalan keluarnya. Membujuk, mengajak hingga berbincang dari hati ke hati yang diwarnai dengan air mata dan tangisan sesak nan pilu. Kerinduan dan kehilangan yang bercampur bagai paduan warna yang menampakkan gelap, kelabu namun cerah benderang. Semua tumpah ruah. Semua menangis sedih dan sakit.

Usai semua mereda, tibalah kemudian Bom Kedua, ketika salah seorang anaknya Papah merasa kebingungan. Seolah kehilangan pegangan dan merasa takut. Linglung. Hingga pertemuan berikutnya, membuat satu demi satu mereka saling menggenggamkan tangan dan berjanji untuk terus kuat dan utuh.

Tak lama Bom Kedua meledak, menjadikannya seorang yang sering mengeluh sesak napas. Tak mampu merasakan betapa bahagianya ketika paru-paru mengisi udara dalam kapasitas yang banyak. Hingga berulang kali mengunjungi dokter, tak mampu membuatnya merasa lebih baik. Dan, kembali kami berkumpul, berbincang, memeluk satu sama lain dan berkata, “kita bisa dan mampu. Ayo, bangkit.”

Bom selanjutnya, membuat orang tersebut menangis meraung-raung dalam tidurnya. Kemudian, bangun dalam kondisi melanjutkan tangisnya. Hingga pertemuan berikutnya, tak ada kata-kata lagi, hanya tepukan halus pada punggung, demi mendatangkan kedamaian sejenak.

Semua ketegaran itu, bukanlah kebohongan. Ketegaran dalam wajah kami, menyiratkan bahwa kami berusaha menerima. Kami berusaha tetap berjalan dengan wajah tegak lurus seperti sedia kala. Meski dalam ruang hati kami, menyisakan ruang kosong. Namun, berisi jejak-jejak kenangan yang tak mampu diabaikan.

***

Kini, kehidupan kami tetap berjalan. Terkadang, setiap berbincang kala malam minggu, sering menyematkan kisah kebersamaan dengan mendiang Papah. Beberapa kali pun tersebut testimoni dan rasa syukur, karena ketegasan mendiang Papah rahimahullah mampu mendidik anak-anaknya menjadi sedemikian kuat.

11 januari, sebuah pengingat. Ada yang datang, ada yang bertemu, ada yang berikrar dan ada pula yang pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: