Experience,  Traveling

Pengalaman Berada Di Ponorogo Selama 13 Jam Saja

Ponorogo

Langit tampak kelabu pagi ini di awal tahun 2019, suasana hari seolah tubuh yang kelelahan akibat pesta semalam. Di bagian wilayah lain, sebuah berita tentang longsor yang menewaskan tiga orang, memenuhi ruang keluarga. Ada yang berpestapora, ada yang mengadakan muhasabah, dan ada pula yang menahan sedih serta takut akan bencana yang akan kembali menyapa. Tak ada yang salah tentunya, karena dalam bagian kehidupan tentu manusia memiliki episode-episode sendiri selama hidup mereka.

Pengalaman Berada Di Ponorogo Selama 13 Jam Saja

Ada kalanya episode itu berisi hal menyenangkan dan sedikit kesedihan. Ada pula episode tentang kesedihan yang menyelimuti tapi dibalut kesenangan dan kegembiraan untuk pelipur lara. Begitu pula dengan rencana yang hanya bisa didengungkan dalam hati. Meski tak pernah sebersit pun ada perbincangan untuk menjejakkan kaki ke Ponorogo, tapi kejutan itu tampak seperti obat di sela rentetan perjuangan dan kerja keras.

Jangan dibayangkan perjalanan ini karena rekreasi semata. Sebab, tujuan saya dan keluarga menjejakkan kaki di Ponorogo, tepatnya di Desa Gontor, karena mengantar keponakan yang kehabisan tiket untuk kembali ke pondoknya. Tidak perlu saya tolak, meski hanya beberapa jam saja berada di sana, oleh karena ini akan menjadi pengalaman pertama saya berkunjung ke wilayah lain yang ada di Indonesia.

Pertama Kali Melewati Tol Jalur Selatan

Melewati jalan tol Semarang, mobil putih yang kami tumpangi masuk ke jalan tol Solo. Perjalanan kali ini, meski malam sudah menggelayut, tetap mencengangkan. Pasalnya, kualitas jalan yang terbentang dari Solo hingga Madiun – sampai Surabaya sebenarnya – sangat mulus sekali, bak wajah yang terawat. Tidak dijumpai ayunan-ayunan seperti ketika melewati tol cipali, bahkan masih terlihat bagus. Konon, pemandangan di kanan-kiri memanjakan mata. Hanya saja, malam itu kabut turun cukup tebal, meski jarak pandang masih normal.

Pembangunan masih terus dilakukan khususnya untuk tempat-tempat beristirahat sejenak. Beberapa tempat bahkan masih dalam tahap pembangunan sehingga belum bisa menyediakan tempat yang bagus dan permanen. Saya termasuk yang gemar sekali pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tidak perlu ditanya, sudah berapa kalikah saya mampir ke kamar kecil sepanjang perjalanan menuju Ponorogo?

Mampir di tempat peristirahatan sementara, beberapa kali ditemui kontainer-kontainer yang disulap menjadi toilet. Beberapa penjaga sudah bersiap di depan pintu untuk menjaga kebersihan toilet. Meski jalanan di luar cukup berbahaya usai hujan, akibat tanah merah dan genangan yang menyapa. Namun, tidak menghalau para pengendara mobil untuk membatalkan kunjungan mereka ke toilet yang ada di tempat ini. Seperti saya juga rupanya mereka, mungkin cuaca yang dingin membuat semuanya mendadak ingin menghampiri toilet serentak.

Hal yang paling saya ingat saat melewati jalur tol selatan ini adalah beberapa kali berpapasan dengan mobil yang terbalik aka kecelakaan tunggal. Pasalnya, dikala hujan masih saja ada beberapa mobil yang seolah tengah mengadu nasib untuk mengecek apakah nyawa mereka masih berjumlah sembilan atau tidak. Padahal, batas maksimal kecepatan sudah diatur. Beberapa ruas jalan menginformasikan batas maksimalnya adalah 80, sementara ruas yang lain memberikan batas maksimal 100. Sementara, salah satu mobil yang sempat mendahului kendaraan kami yang tidak lama berselang loncat hingga berputar di udara dan jatuh, tampak melewati batas maksimal kecepatan di saat hujan turun.

Tahukah bahwa ketika hujan turun, ban-ban mobil yang terkena genangan air bisa mengalami penurunan kekuatan genggamannya pada jalan yang dilintasi?

Baca Juga :

Keluar Tol Madiun Dan Melaju Hingga Masuk Ke Ponorogo

Beberapa kali, kami berdecak kagum karena sampai di Madiun setelah berkendara kurang lebih 8 jam, itu sudah dihitung berkali-kali berhenti di tempat perhentian. Saat memasuki kabupaten Madiun, mata saya melanglang buana menikmati pemandangan malam yang menyisakan rintik hujan serta genangan kecil di kanan-kiri jalan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 1 dini hari. Tampak beberapa orang yang hendak pulang ke rumah usai bercengkrama di warung kopi. Ada pula yang hendak berangkat ke pasar tradisional.

Tidak begitu lama kami melintasi jalanan kabupaten Madiun ini, namun sempat ada rasa kecewa menghampiri karena saat itu perut kami keroncongan. Dan, kelewatan beberapa kedai sego pecel Madiun yang masih buka dini hari itu. Saat kami melihatnya, posisi mobil tengah melaju kencang. Ketika berharap di depan akan melihat penjaja makanan sego pecel, ternyata tidak ada. Karena, beberapa ratus meter di depan sana, ada tugu yang bertuliskan Selamat  Jalan.

Ponorogo

Menikmati Ponorogo Selama Beberapa Jam 

Memasuki kota Ponorogo, melewati beberapa patung yang berdiri cukup gagah. Kami masih bergantung pada peta di gawai otomatis. Jalanan dini hari itu sudah mulai banyak orang yang lewat. Kebanyakan dari mereka membawa sayur. Sayangnya, tak kami temukan penjaja makanan untuk mengatasi perut kami yang meminta sesuatu untuk dicacah. Perjalanan kami lanjutkan hingga tampak tulisan Gontor pada papan yang berada di pinggir jalan. Sudah sampai rupanya, gumamku dalam hati.

Sebelum keponakan saya ini kembali ke pondoknya, kami memutuskan untuk menghabiskan beberapa jam ini bersama dengan tidur di wisma. Toh, tinggal beberapa jam lagi pun adzan subuh berkumandang. Sudah direncanakan pula, kalau nanti sebelum dia kembali ke pondoknya, akan diajak berkeliling sebentar di Ponorogo ini. Jadi, kami memutuskan untuk merebahkan tubuh sejenak di wisma yang disediakan untuk mereka yang ikut mengantar siswa dan siswi pondok pesantren tersebut.

Bagi yang belum tahu, Gontor itu terletak di sebuah desa yang namanya juga sama yaitu Desa Gontor. Di sini terdapat banyak pondok pesantren. Ada pondok pesantren Gontor, ada pula semacam pondok pesantren rekanan yang masih berada dalam naungan Gontor, namun hanya berbeda pendirinya saja. Salah satunya, tempat dimana keponakan saya mondok ini. Di desa Gontor, jangan dibayangkan akan berisi penuh dengan pondok pesantren berjajar. Tapi, justru dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk setempat. Tidak perlu kaget pula jika didapati beberapa kedai makanan menjajakan makanan yang enak rasanya.

Baca Juga :

Saat pagi menjelang, barulah kecantikan Ponorogo terlihat dengan jelas. Betapa saya hampir meneteskan airmata saking kagumnya, masya allah, sungguh tak mampu lidah saya berkata-kata lagi. Dengan paksa saya meminta mobil untuk diparkirkan sejenak di seberang bentangan sawah. Sebab, ingin saya abadikan sebagai bentuk kenangan yang nantinya akan selalu saya ingat. Betapa kombinasi antara gunung, sawah dan langit biru disertai gulungan awan yang putih. Tak hanya mendatangkan rasa kagum, tapi ini sebuah potret asli dari gambar-gambar yang sering saya torehkan di atas buku gambar. Gunung, sawah dan satu bilik kecil di tengah sawah. Ah, ternyata saya tidak sedang bermimpi.

“Pasti banyak uletnya,” demikian jawaban yang saya terima saat menyeritakan betapa banyaknya kupu-kupu yang terbang di sepanjang jalan Desa Gontor menuju Ponorogo. Meski bukan itu yang menjadi alasan kenapa saya teramat bersemangat. Tapi, karena saya membayangkan, betapa banyaknya serangga dan binatang kecil yang bisa saya rekam dalam sebuah foto macro. Ah, sayangnya, waktu sudah begitu mepet sehingga kami harus bergegas menuju kota Ponorogo.

Ponorogo

Jangan Lupa Mampir Di Sate Ayam Ngepos Ponorogo

Sate Ponorogo itu berbeda dari Sate Ayam Madura. Entah apa yang membuat keduanya berbeda ketika dikecap oleh lidah saya. Ada sesuatu yang identik dan khas, tidak bisa disamakan. Baik bumbu maupun daging ayamnya.

Memasuki kota Ponorogo dengan ekspektasi tinggi agar bisa mencicipi langsung sate khas Ponorogo. Saya langsung menanyakan pada kawan saya, yang saya tahu dia asli dari Ponorogo. Rekomendasi darinya adalah sate ayam ngepos, awalnya saya pikir ini merupakan kedai sate ayam dengan satu penjual. Tapi, keunikan tempat ini adalah berisi beberapa orang yang menjual sate ayam khas ponorogo. Percaya atau tidak? Satu ruko disewa bersama-sama oleh para pedagang sate ayam.

Keunikan lain yang bisa saya ceritakan di sini, selain rasa dan bumbu yang dihidangkan. Tempat makan ini berada di dalam ruko. Sementara para pedagang sate ayamnya mengipasi sate mereka di luar. Anda tinggal memilih ingin membeli dari pedagang yang mana. Sama saja, boleh makan di tempat itu. Pengecualiannya adalah jika Anda ingin memesan sate ayam dengan lontong, tentu akan disediakan langsung oleh pedagang sate ayamnya. Tapi, jika ingin sate ayam dengan nasi, maka Anda tinggal memesan nasinya di tempat pedagang minuman. Semuanya masih satu tempat, tenang saja, Anda tidak perlu keluar dari ruko tersebut.

Ada lagi yang juga unik, Anda harus mempersiapkan diri jika selama makan sate di tempat ini, mata Anda akan berair. Bukan karena pedasnya bumbu sate, tapi karena asap yang masuk ke dalam tempat makan. Beberapa kali kami mengusap air mata, memejamkan mata, seolah menangis sedih karena menjejakkan kaki di Ponorogo ini hanya beberapa jam. Padahal, mata kami berair sampai berlinang airmata karena rasa pedas yang terbawa beserta asap sate yang sedang dibakar.

Sepanjang jalan gajah mada ini, Anda akan menemui beberapa kedai sate ayam ngepos. Kalau saya kemarin, mencobanya langsung di Ruko yang bertuliskan KUMPULAN PENJUAL SATE NGEPOS-PONOROGO.

Jangan Lupa Mencicipi Dawet Jabung Khas Ponorogo

Sudah pernah mendengar namanya? Kalau saya, belum pernah. Bahkan, beberapa kali melewati kedai dawet Jabung ini, dahi saya mengernyit karena tidak tahu apa gerangan makanan ini. Seperti apa bentuknya? Sayangnya, meski saya sudah mencobanya, tapi karena kami harus segera kembali ke Bekasi, alhasil saya belum bisa menampilkan fotonya. Tapi, akan saya lampirkan foto yang saya ambil dari google. Untuk gambaran saja, seperti apa dawet Jabung itu.

foto diambil dari google image (cookpad)

Keunikan yang saya temui saat mampir ke kedai dawet jabung adalah serangga yang tengah terbang di dekat penjualnya. Semula, saya pikir serangga itu adalah lalat. Karena di Bekasi sudah sering saya menghampiri penjual yang menjajakan makanan apa saja, dikerubungi oleh prajurit-prajurit lalat yang berani. Tapi, yang saya lihat ternyata bukan lalat! Mereka adalah kumpulan TAWON! Betul, Anda tidak salah baca, serangga yang mengerubungi sang penjual dawet adalah tawon. Dan ini membuat saya cukup tercengang, bukan karena takut, tapi benar-benar kaget. Saya pikir, apa yang pernah saya lihat di televisi itu sebuah rekayasa.

Penutup

Walaupun mengunjungi Ponorogo bukan dalam rangka liburan dan hanya beberapa jam saja berada di sana. Saya tetap sangat bersyukur. Bahkan, saya memiliki rencana untuk berlama-lama di Ponorogo, insya allah jika ada waktu dan kesempatan lagi. Terutama, ingin sekali memotret di alun-alun Ponorogo, yang saat saya lewati kemarin masih sedang direnovasi. Tampaknya akan menjadi sangat bagus dan apik desainnya.

Yang pasti, sepanjang perjalanan kemarin, berisi kenangan lucu yang membuat perut ingin terus berguncang karena tertawa. Dari mulai pengalaman saat gagal mengambil uang di atm karena beberapa hal. Sampai salah pilih jalur tol dan keluar di tol Krapyak. Hingga memutuskan untuk mencari tol terdekat karena malas putar balik dan masuk melalui tol Weleri. Hingga kelucuan kala peta di gawai pintar tidak dapat mendeteksi posisi kami berada hingga berpindah-pindah posisi selama perjalanan.

Tentunya, semua pengalaman ini menjadi kenangan manis yang akan terus saya kenang selalu. Allhamdulillah. (Ipeh Alena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: