Film Tuck Everlasting Tentang Hidup Abadi

Bagaimana jika kita ditakdirkan hidup abadi? Tanpa sepengetahuan bahkan tanpa ada persiapan apapun. Apakah kita bisa menerima takdir dengan lapang dada. Melihat dunia dengan cara pandang berbeda. Bermimpi bahwa hidup akan baik-baik saja. Tanpa takut menghadapi kematian apalagi terkena penyakit berbahaya.

Film ini diproduksi oleh Walt Disney. Jika beranggapan ini film untuk anak-anak, kurang tepat rasanya. Karena, ada adegan ciumannya. Namun, jika Anda tidak mempermasalahkannya, silakan saja. Sebab, film yang diangkat dari buku ini, ingin mengenalkan sesuatu tentang keabadian. Kalau ingin tahu seberapa banyak adegan ciumannya. Saya hanya bisa menjawab : sedikit.

Informasi mengenai film ini dan pemainnya silakan klik di sini.

Tuck everlasting

Gadis Pemberontak Yang Membenci Rutinitas Ketat

Berlatarkan kondisi sekitar tahun 60 atau 70-an. Dimana pakaian mereka masih tampak seperti masa Victoria. Kemudian, rutinitas anak perempuan yang diwajibkan untuk tampak anggun dan feminim. Transportasi darat yang masih didominasi oleh kereta kuda. Serta jurang pemisah antara si miskin dan si kaya yang teramat nampak.

Tuck everlasting
TUCK EVERLASTING, Alexis Bledel, 2002. ©Buena Vista Pictures/courtesy Everett Collection

Adalah Winnie Foster (Alexis Bledel) seorang gadis berusia 15 tahun yang bosan dengan aktivitas hariannya. Dia memainkan piano dengan setengah hati. Memimpikan untuk bisa keluar dari pagar rumahnya demi sebuah kebebasan. Senantiasa penasaran dengan apa yang ada di balik pagar rumahnya. Serta, memiliki jiwa pemberontak yang enggan untuk menuruti semua perintah Ibunya.

Pada suatu malam, seorang yang tak diketahui namanya. Menemui Winnie dan mengajaknya berbincang. Si orang asing ini mengatakan sedang mencari seseorang. Namun, dia tidak mengatakan siapa namanya. Hanya bercerita sambil membantu Winnie menangkap kunang-kunang. Tak lama berselang, Ibunya datang menghampiri. Mengajak Winnie masuk. Akibat berbincang dengan orang asing.

Tuck Everlasting
source : hollywood.com

Seolah seperti sebuah hukuman, Ibunya memutuskan secara sepihak. Bahwa, Winnie harus bersekolah di asrama khusus perempuan. Winnie menolak dengan alasan sekolah tersebut dikenal sebagai sekolah yang kejam. Winnie tidak setuju dengan keputusan Ibunya. Bagaimana pun dia merasa sayang jika harus pergi dari rumahnya.

Padahal, bukan karena rumahnya mengapa dia enggan. Tapi, dia membenci keterikatan yang mengekang. Dia mencintai kebebasan. Dan, sangat penasaran dengan hutan yang mengelilingi rumahnya. Hutan tersebut adalah milik ayahnya Winnie. Namun, dia tak pernah diperbolehkan menjejakkan kaki di dalam hutan.

Hingga suatu hari, Winnie nekat kabur dari rumahnya. Hanya demi mendapat pengalaman masuk ke dalam hutan. Menikmati pemandangan yang ada. Dan, rencananya dia akan kembali lagi ke rumahnya.

Keluarga Tuck Yang Tinggal Di Hutan

Apa sih yang dilakukan sebuah keluarga tinggal di dalam hutan? Tentunya, sudah tercium sesuatu yang aneh. Menyendiri atau mengasingkan diri akan selalu memiliki alasan dasar bagi si pelakunya. Karena itulah, Winnie sangat terkejut ketika pertama kali bertemu dengan Jesse Tuck.

Warning : bagi yang suka dengan cowok seperti Jesse, atur napasmu.

tuck everlasting
TUCK EVERLASTING, Jonathan Jackson, 2002. ©Buena Vista Pictures/courtesy Everett Collection

Jesse Tuck ini seorang pemuda berusia 17 tahun. Yang sedang menikmati air dari dekat pohon. Dia tak menyadari keberadaan Winnie sebelumnya. Sudah pasti, saat tahu ada orang lain di dekatnya. Jesse langsung terkejut dan menyuruh Winnie untuk berbalik arah dan pulang.

Dasarnya Winnie si gadis keras kepala. Dia justru berminat untuk ikut minum dari air yang tadi disesap oleh Jesse. Tapi, Jesse melarangnya. Sudah tercium bau-bau misteri yang terbongkar? Tenang, ini bukan tentang bagaimana dan apa misteri tersebut. Ini murni tentang bagaimana sebenarnya kehidupan abadi itu. Yah, walaupun nanti akan penasaran dengan sosok yang diperankan oleh Ben Kingsley ini.

Tuck everlasting
copyright DVDizzy.com

Kembali lagi pada pertemuan Jesse dan Winnie. Setelah berusaha mengelak dan berkeras ingin meminum air. Winnie akhirnya lari sekencang mungkin untuk bisa sampai ke rumahnya. Sayangnya, dia berpapasan dengan Miles. Kenapa sayangnya?

Jadi, malam pertama setelah kedua anak lelaki ini melanglang buana. Mr. Tuck berkata pada anaknya, kalau nanti ada orang asing, lakukan sesuatu sesuai kesepakatan. Tidak begitu jelas saya tangkap maksudnya apa. Namun, demi keamanan dan kenyamanan kehidupan keluarga Tuck. Akhirnya, semua juga ikut sepakat.

Nah, Miles ini yang paling kencang berusaha melindungi keluarganya. Meski dia tampak seperti anak pertama yang enggan tinggal bersama keluarganya. Itu semua ada sebabnya. Tentu berkaitan juga dengan masa lalunya yang menyakitkan.

Kembali lagi ke bagian ketika Winnie berusaha lari dan tertangkap oleh Miles. Di sini, Jesse berteriak memohon agar Miles tidak melakukan sesuatu apapun pada Winnie. Nampak oleh saya, adegan kejar-kejaran ini cukup mendebarkan. Saya pikir akan terjadi sesuatu yang horor dan membuat kepala ini berpusing-pusing ria.

Tak lama, kudanya Miles sampai di rumahnya. Dia memuntahkan amarahnya pada sang Ibu. Sambil menuruti perintah Ibunya untuk memanggil Mr. Angus Tuck. Akhirnya, Winnie jatuh di tangan yang tepat. Yaitu, Nyonya Mae Tuck yang baik hati namun sering gugup ini. Dia sering memainkan musik dari kotak musiknya. Demi meredakan kegugupannya.

Sekarang, Winnie sudah bertemu dengan seluruh keluarga Tuck. Lantas, apa lagi?

Winnie Tinggal Bersama Keluarga Tuck

Awalnya, saya tak mengerti kenapa Winnie tidak langsung diantar pulang saja? Kan nanti jadinya membuat keluarga Tuck diketahui orang banyak. Apalagi, Winnie sudah mengatakan kalau Ayahnya yang kaya raya itu, pasti mencarinya. Tapi, Mr. Tuck ini menjawab dengan santai, “tenang, nanti juga bokap lo ngepapras semua pohon di sini.”

Berarti ada kondisi yang ambigu di sini. Pertama, kecemasan keluarga Tuck kalau nanti ada orang yang tahu tempat tinggal mereka. Kedua, keluarga Tuck sudah mempersiapkan sesuatu untuk penyambutan orang lain. Dalam hal ini para polisi dan tentunya ayahnya Winnie.

tuck everlasting
sumber pinterest

Selama tinggal bersama keluarga Tuck. Winnie merasakan kehidupan yang berbeda. Dia merasa kalau hidup dengan keluarga ini terasa berjalan lambat. Damai dan tentram. Jauh dari ketergesaan dan segala hal yang bisa membuatnya ingin memberontak. Apalagi, keluarga ini termasuk yang menjalankan kehidupan yang apa adanya. Dan, semuanya tampak bahagia.

Yang tidak disadari selama beberapa hari bersama dengan Jesse Tuck. Winnie merasa getaran yang aneh dalam dirinya. Betul, ada benih rasa suka dalam diri Winnie terhadap Jesse. Dan, suatu malam Jesse mengingatkan pada Winnie. Bahwa dia pernah bercerita kalau usianya sudah 104 tahun. Jesse mengatakan kalau itu bukan cerita bohong.

Tak lama Jesse bercerita tentang Spring Water. Ketika keluarga mereka tak tahu menahu mengenai air tersebut. Mereka hanya singgah dan menumpang minum di situ. Demi membuka lahan untuk tempat tinggal mereka. Tapi, satu persatu kejadian aneh membuat mereka baru tersadar akan sesuatu.

Cerita dilanjutkan oleh Miles yang tanpa sepengetahuan dua muda-mudi ini sedang menguping. Dengan bercucuran air mata dan sorot mata penuh amarah, Miles menyeritakan. Tentang pertama kali ketika Jesse jatuh dari pohon yang sangat tinggi. Dia tidak terluka sama sekali. Bahkan, bisa langsung bangun dan berdiri tanpa terluka. Kemudian, kejadian demi kejadian membuktikan kalau mereka sekeluarga tak akan bisa mati.

Di bagian ini, Miles juga menyeritakan masa lalunya. Mengapa dia selalu yakin kalau orang lain tidak akan pernah menerima keberadaan mereka. Hingga kemudian Winnie menerima kisah tersebut dengan lapang dada. Meski, dia jadi berpikir tentang keabadian juga.

Hidup Abadi Bukanlah Pilihan Yang Tepat

Ketika kita disodori film-film yang memiliki tokoh hidup abadi. Menjadi super hero kemudian hidup menyaksikan dunia ini berubah. Tentu beberapa ada yang mungkin berpikir, enak ya. Apalagi, kalau dijamin tidak akan terkena penyakit. Ketika dipukul, hanya terasa sakit sedikit seperti digigit semut. Tentu, banyak pula orang berpikir hidup abadi adalah kekuatan super yang diinginkan.

Di sinilah, peran Mr. Tuck yang mengajak Winnie berbincang sebentar sangat berpengaruh. Pengaruhnya terhadap keputusan-keputusan Winnie yang masih sangat muda. Tentunya, dalam kepala gadis yang berpikir akan bisa hidup abadi kemudian keliling dunia ini tak tahu. Ada banyak kesulitan yang dihadapi Mr. Tuck.

“Don’t be afraid of death, Winnie. Be afraid of the unlived life.”

“What we Tucks have, you can’t call it living. We just… are. We’re like rocks, stuck at the side of a stream.”

Mr. Tuck harus sering-sering mengajak keluarga pindah dari satu tempat ke tempat lain. Bersembunyi dari kehidupan sosial. Hidup tanpa tetangga. Tanpa memiliki teman yang bisa diajak berbagi. Bahkan, ada kemungkinan kedua anak Tuck tidak mungkin untuk menikah.

Setiap orang yang tahu mengenai kehidupan mereka yang abadi. Banyak orang yang seketika menganggap mereka sebagai penyihir. Mengucilkan dan bahkan mengusir mereka dengan cara yang brutal. Tak hanya itu, mereka harus bertahan menyaksikan orang yang mereka cintai meninggal dunia. Pada bagian ini, saya teringat dengan Goblin. Dan, apa yang menderanya selama hidup abadi, hampir sama.

Setiap ada pertemuan tentunya ada perpisahan. Jesse dan Winnie harus merelakan jikalau takdir tak berpihak pada mereka. Namun, Jesse berjanji akan terus mencintai Winnie. Setelah itu, keluarga Foster memutuskan untuk berkeliling dunia. Namun, sebelum itu ditampilkan adegan Winnie duduk di pinggir kolam air kecil sedang memainkan Spring Water.

Penutup

Alur dari film ini cukup ringan. Saya bahkan sampai bertanya-tanya, apa yang ingin disampaikan dari film ini? Kalau bukan karena saya memilih buku ini secara acak. Rasanya saya tidak akan pernah tahu kalau ada buku dan film yang cukup menarik. Meski sudah keluar sejak tahun 2002, tapi masih tetap menarik hingga saat ini untuk ditonton.

Bagian akhir dari film ini, cukup mengharukan. Memang, bagaimana pun saya lebih senang dengan cerita yang logis. Tak melulu menyajikan akhir bahagia dengan cara yang begitu-begitu saja. Tapi, akhir yang bahagia itu bisa menjadi sesuatu yang lain. Seolah dibungkus dengan kertas berbeda dan diikat dengan tali berbeda.

Pada akhirnya, saya tidak menyesal menonton film yang ringan, menghangatkan hati dan membuat saya tak ada habisnya ingin membaca ulang dan menonton ulang.

Bagi yang ingin menonton. Saya cuma tahu kalau film ini adanya di Netflix. Jika ingin menonton di layanan yang resmi. Karena, di Play Movies masih belum tersedia hingga saat ini. Cuma ada informasinya saja. Sayang sekali memang. Padahal filmnya bagus.

Written by

Blogger – Reader – Writer – Amateur Photographer – Reviewer – BuzzerFor more information about me kindly please visit this link : About on Top Menu. Bussiness Inquiry or more information please send your email to : ipehalena@gmail.com .

6 comments / Add your comment below

  1. ohhh ada bukunya juga mba? aku lbh tertarik ama bukunya kalo memang ada. lbh suka membaca kisahnya dulu di buku,baru setelah itu nonton filmnya. :D.kayaknya menarik sih 😉

Leave a Reply

%d bloggers like this: