Aplikasi Baca Buku Legal Menjawab Keresahan Penulis Dan Penerbit Akan Peredaran Ebook Ilegal

Baca Ebook online

Apa yang paling identik dari para pembaca buku elektronik? Membaca buku elektronik bukan lagi menjadi sesuatu yang baru. Di kalangan para pembaca buku, aplikasi membaca buku elektronik secara legal mendatangkan kelegaan tersendiri. Bagaimana tidak? Jika ditarik mundur beberapa tahun yang lalu. Membaca ebook legal untuk buku berbahasa Indonesia hanya ada di Google Playbook.

Sebenarnya dari pihak perpustakaan nasional juga menyediakan buku dalam format digital, tapi pada waktu itu, hanya bisa dibaca melalui website. Tak hanya itu, koleksinya juga masih belum mencukupi.

Hingga kemudian banyak beredar buku digital secara gratis. Tentunya ini bersifat ilegal. Tanpa mendapat persetujuan dari penerbit.

Meski begitu, tak semua ebook itu ilegal pada waktu itu. Ada satu website yang menyediakan ribuan buku digital klasik yang bisa diunduh dan dibaca secara bebas. Buku digital ini sudah habis masa berlaku kepemilikannya. Sehingga dikumpulkan di website Project Gutenberg yang hingga kini masih menjadi sumber legal untuk buku digital klasik.

Di Indonesia sendiri, saya hanya mengenal Google Playbooks yang beruntungnya tidak atau belum ditutup oleh pengembangnya. Hehehe. Tentu sudah bukan rahasia umum lagi kalau Google sering menutup dan memberhentikan layanannya.

Karena dahulu kala saya masih belum terbiasa membaca buku format digital. Alhasil, saya tidak begitu banyak membaca di Playbooks. Biasanya hanya membaca beberapa lembar buku digital gratisan untuk mengetahui apakah buku tersebut layak dibeli atau tidak.

Namun, seiring perkembangan teknologi yang kemudian dirasakan banyak masyarakat Indonesia saat ini. Muncul satu-persatu aplikasi membaca buku legal. Demi menjawab kebutuhan mereka yang membutuhkan konsep bacaan yang efisien.

Di luar negeri sendiri ebook bukan hal yang baru. Bahkan mereka sudah menciptakan gawai khusus untuk membaca buku dengan tinta elektronik yang aman untuk mata.

Kali ini saya akan menuliskan pengalaman saya menggunakan beberapa aplikasi baca digital. Baik yang gratis maupun yang berbayar.

1.Google Playbooks

Ini sempat saya singgung sebagai aplikasi membaca ebook yang cukup lama. Meski di beberapa negara, aplikasi ini termasuk baru.

PB (Playbooks) ini seperti toko buku. Tidak ada biaya berlangganan yang bisa membuat penggunanya bisa membaca buku secara bebas. Tapi, harus membeli ebook sebelum membacanya.

Metode pembayarannya menggunakan Google Wallet. Atau biasa dikenal voucher google play yang memang bisa digunakan untuk belanja baik aplikasi umum, permainan sampai ebook.

Kelebihan dari Google Playbook ini adalah pembaca bisa menyimpan kalimat atau kutipan yang tersimpan dalam media penyimpanan tersendiri. Selain itu, kita bisa mencarinya di tab khusus. Jika ebook yang kita baca sudah selesai, kemudian dihapus dari media penyimpanan lokal. Catatan atau kutipan yang telah ditandai masih tetap tersimpan di dalam tab tersebut. Inilah yang membuat saya betah membaca di GPB.

Tak hanya itu, sering pula di tempat ini menyediakan diskonan yang cukup mencengangkan. Beberapa waktu lalu, hanya satu hari, ada diskon ebook besar-besaran. Yang cukup menghebohkan karena satu ebook populer bisa dihargai Rp 45. Zaman sekarang bisa dapat apa sih dengan uang 45 rupiah saja? Nah, kehebohan ini ternyata hanya satu hari saja terjadinya. Meski sangat disayangkan, karena saya tidak kebagian kesempatan mencicipi diskonan ini, hehe.

Untuk laman antar-mukanya cukup enak dan ringan. Bisa diatur warna latar ebooknya, ingin menggunakan warna putih atau warna lainnya. Selain itu, tingkat kecerahannya juga bisa diatur. Dimana tingkat kecerahan saat membaca ebook di GPB bisa dibuat berbeda dengan kecerahan sistem handphone. Jadi, tidak khawatir ketika ingin membaca pesan singkat saat sedang membaca ebook. Karena, masih tetap sama intensitas kecerahan di gawai kita.

Ada kelebihan tentu ada kekurangan. Kekurangan dari Google Play Book ini, konon rawan pembajakan ebook. Jadi, ada beberapa oknum yang membeli ebook kemudian setelah dibaca dikembalikan lagi atau meminta retur melalui sistemnya. Meski sampai saat ini saya masih belum tahu bagaimana prosedur retur ini. Tapi, beberapa ada yang menyeritakan perihal ini.

Selain itu, dengan tidak adanya paket berlangganan, sehingga setiap ingin membaca ebook diwajibkan untuk membelinya. Lumayan membuat kantong jebol juga, sih. Terutama beberapa ebook yang ingin saya baca merupakan ebook bahasa inggris yang harganya selalu di atas 80 ribu rupiah.

Reading

2. Scribd

Kalau aplikasi ini lumayan sering membuat saya kesemsem. Bagaimana tidak? Koleksinya yang bejibun dan cukup terbaru membantu sekali ketika ingin mengetahui seperti apa cerita di buku-buku tersebut. Dengan konsep berlangganan, aplikasi ini memberi kemudahan untuk saya menelusuri sepuasnya semua ebook dan audiobook yang ada di sini. Sekarang, saya ingin membicarakan mengenai tampilan dan keuntungan berlangganan di Scribd.

Kelebihan dari Scribd itu selain koleksinya yang banyak. Tentu tampilannya yang juga memberi kemudahan kita untuk menyimpan kutipan atau kalimat secara terpisah. Bukan satu halaman penuh yang kita tandai. Tampilannya memang mirip sekali dengan Playbook. Ringan dan mudah navigasi antar halamannya.

Jika Playbook sering tidak bisa membaca melalui website. Kalau Scribd ini bisa kita baca lewat versi website. Ini keunggulan Scribd dibanding Playbook. Apalagi sistemnya juga mengikuti laman terakhir yang kita kunjungi di gawai. Kalau mata kita lelah, masih bisa membacanya melalui versi website.

Biaya berlangganan Scribd ini juga cukup murah, dengan mengeluarkan biaya 8.99$ USD sebulan penuh. Kita sudah bisa membaca ratusan ebook tanpa batas. Mendengarkan audiobook tanpa batas juga. Sangat memberi kemudahan, jika dirata-ratakan kita membaca 10 buku setiap bulan. Maka kita hanya membayar 0.89$ USD saja setiap ebook. Lebih murah dibanding kita membaca buku satuan.

Kekurangan Scribd untuk saya tidak ada. Karena, selama ini tidak pernah ada masalah saat membaca di aplikasi ini. Selain itu, cukup mudah dalam pencarian buku-bukunya. Jadi, ini aplikasi favorit buat saya.

3. Ipusnas

Siapa di sini yang masih mengaku tidak punya uang untuk beli buku. Sehingga dijadikan alasan untuk tidak membaca buku? Kalau begitu, silakan unduh dan pasang aplikasi I-Pusnas. Sebuah aplikasi perpustakaan digital yang disediakan langsung dari pihak perpustakaan nasional. Tidak susah, loh. Cukup dengan menyediakan kuota internet yang tidak seberapa terpakainya di aplikasi ini.

Kelebihan dari aplikasi I-Pusnas adalah koleksinya yang cukup banyak dan lengkap. Bahkan, beberapa buku tersedia di aplikasi ini tapi di aplikasi sejenisnya tidak tersedia. Terutama, untuk koleksi bacaan anak dan non-fiksinya juga termasuk lengkap. Selain itu, kita bisa membaca ebooknya secara offline atau tanpa paket data. Asalkan aplikasinya tidak tertutup. Ini pengalaman saya kalau sedang lelet dalam membaca.

Untuk kekurangan tentunya memang tidak bisa disandingkan dengan kedua aplikasi sebelumnya. Latar-muka aplikasi ini cukup ringan, tapi beberapa buku ada yang tidak rapi susunannya. Selain itu hurufnya tidak bisa diperbesar atau dikecilkan sehingga harus dizoom. Kemudian, masa berlaku pinjaman bukunya memang singkat. Mengingat banyak antrian yang ingin membaca. Kemudian, sulit untuk menyimpan kutipan di satu kalimat. Jadi, harus menyimpannya secara penuh satu halaman.

4. Gramedia Digital

Siapa yang tak kenal dengan penerbit mayor yang merajai beragam buku-buku di Indonesia. Tentunya, banyak pula buku di rumah saya yang merupakan terbitan dari penerbit ini. Dulu, Gramedia Digital dikenal dengan nama Scoop. Namun, tak beberapa lama berganti nama menjadi Gramedia Digital. Ebook yang ada di aplikasi ini cukup banyak. Mulai dari fiksi sampai non-fiksi. Bahkan buku pelajaran pun ada.

Kelebihan lainnya selain koleksinya yang banyak. GD sering menampilkan buku-buku yang baru saja terbit. Sehingga memberi kemudahan bagi siapa saja yang ingin membeli buku tersebut tapi bimbang. Dengan membaca bukunya secara lengkap dalam format digital, tentunya bisa membuat calon pembeli buku tersebut bisa memutuskan apakah akan membeli langsung atau tidak.

Selain itu, aplikasi ini masih terbuka untuk dipakai di 5 gawai. Mungkin ada yang sering mendengar tentang patungan untuk membaca di aplikasi GD ini. Jadi, dibuat satu grup dengan jumlah pesertanya ada lima orang. Masing-masing patungan sebesar 20 ribu rupiah. Untuk berlangganan ebook di aplikasi ini. Dengan begitu, kita tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membaca.

Kekurangannya semenjak mendapat perubahan aplikasi. Di sini pembaca tidak bisa menandai halaman favorit. Tidak bisa menandai kutipan favorit. Fiturnya sudah ditiadakan. Ini cukup mempersulit juga, apalagi buat saya yang sering lupa dan ingin menulis ulasan tentang buku tertentu namun lupa dimana tepatnya kalimat yang ingin saya kutip.

Selain itu, aplikasi ini hanya bisa digunakan di operating system terbaru. Bagi pengguna gawai lama, tentunya kesulitan jika ingin mengakses bacaan melalui aplikasi ini. Karena tidak memenuhi sistem terbaru.

Penutup

Sebenarnya masih ada aplikasi membaca lainnya, yang gratis seperti I-Jak, I-Boyolali. Yang menggunakan sistem pembayaran seperti poin atau kerang ada Storial dan Cabaca. Untuk aplikasi baca ebook berbahasa Inggris juga masih ada Kindle Amazon yang bisa diunduh dan dipasang di Android. Masih ada banyak aplikasi sejenis yang bisa membantu kita membaca buku dalam format digital. Jadi, bisa dikatakan, untuk membaca saat ini sudah banyak aplikasi yang memberi kemudahan. Diharapkan dengan adanya aplikasi seperti ini, penyebaran ebook ilegal sampai kurangnya minat baca bisa diatasi.

Selamat Hari Buku!

Written by

Blogger – Reader – Writer – Amateur Photographer – Reviewer – Buzzer For more information about me kindly please visit this link : About on Top Menu. Bussiness Inquiry or more information please send your email to : ipehalena@gmail.com .

2 comments / Add your comment below

  1. Jadinya uda dicobain kak Ipeh yang Gramedia Digital?
    Aku coba di HP suami, kok ga bisa yaa..
    Apa fitur bisa di gunakan di 5 gawai yang berbeda ini sudah gak berlaku?

Leave a Reply