I Was Born To Ride : Ini Kenapa Saya Suka Naik Motor

Naik Motor

Sepertinya, kalau dihitung secara asal-asalan, kehidupan saya di atas motor lebih banyak dibanding mengendarai kendaraan lain. Pasalnya, sejak kecil saya sudah mengenal motor alih-alih naik angkutan umum jikalau ingin bepergian. Alasannya sangat sederhana, saya waktu kecil sering mengalami mabuk perjalanan setiap naik angkutan umum. Jadi, demi meminimalisir kerepotan akhirnya Bapak dan Ibu saya memutuskan untuk mengendarai motor kemanapun kami pergi.

Ketika adik baru saya lahir, otomatis ada pergeseran di sini. Yang biasanya saya akan diajak bepergian, tapi karena saya sudah besar, akhirnya mendapat tugas JARUM aka Jaga Rumah. Dan, bergantilah peran adik saya yang pertama dan yang kedua bepergian dengan motor.

Beranjak dewasa, saya tak absen pula nebeng motor dengan teman-teman saya lainnya. Alasannya agar hemat pengeluaran, sih. Tapi, yang pasti ada banyak hal yang selalu membuat saya senantiasa memilih mengendarai motor setiap kali bepergian dalam jarak yang masih bisa dijangkau.

Pasalnya, semenjak memasuki usia 30-an, tubuh saya sudah tak sekuat dulu. Sehingga, keinginan untuk ikutan touring pulau jawa hanya tinggal impian saja. Mengingat kalau bepergian jarak jauh dengan kendaraan motor, bisa membuat saya tergeletak tanpa energi di atas kasur selama berhari-hari.

Lantas, apa saja alasan saya memilih lebih senang mengendarai motor?

1. Bisa Menemukan Jalan Baru

Bohong kalau sekarang saya katakan bahwa naik motor bisa cepat sampai ketimbang naik mobil. Pasalnya, saya pernah mengalami sendiri, kondisi jalur biasa lebih macet dan padat minta ampun dibanding jalan tol. Jadi, alasan cepat sampai ini bukan alasan yang tepat sasaran.

Namun, alasan bisa menemukan jalan alternatif yang belum pernah dilewati, ini baru benar adanya. Setiap kali mengendarai motor dan menemukan jalur macet sepanjang kalimalang menuju Cikarang dari Bekasi. Banyak saya jumpai motor-motor memasuki gang-gang kecil yang saya ikuti. Konon, mereka adalah pengendara lawas yang memang sudah terbiasa menapaki wilayah bagian terdalam sisi kanan atau kiri sepanjang kalimalang menuju Cikarang.

Siapa sangka, saya bisa menemukan pemandangan motor-motor ini melintasi getek dari kawasan industri Cibitung MM 2100. Dimana jika kondisi hujan deras, getek tersebut tidak akan beroperasi karena air sungai yang deras. Jalur menuju dan setelah dari getek tersebut pun, melewati padang rumput luas yang kini sudah berubah menjadi jalan penghubung dari Cikarang ke Cibitung.

Itu baru satu tempat. Belum tempat lain yang bisa dilewati jika melalui jalan sepanjang setu menuju Cikarang. Bisa mendapat pemandangan yang jarang terlihat yaitu pematang sawah yang teramat luas. Jalan-jalan kecil yang bahkan sudah diperbaiki. Beberapa kali bahkan pernah melewati jalur perkampungan dari Jonggol menuju Bekasi, dimana tak ada satu penerangan sama sekali.

Belum lagi kalau sepanjang jalan kalimalang tengah macet parah. Entah karena pembangunan LRT atau macet karena banyak orang yang mudik. Saya bahkan tak tahu daerah apa namanya, yang jelas, para pengendara motor bisa melewati jalan yang teramat sempit sampai melewati pekarangan rumah orang yang dengan baik hati mempersilakan kami lewat dan memberitahu jalan yang lengang tanpa melewati kemacetan.

2. Menemukan Dunia Berbeda Yang Tersembunyi

Ini pengalaman saya ketika menuju ke Cibinong dari Bekasi. Melewati jalan-jalan sempit di daerah Cikeas menuju Cibinong. Saya mendapati pemandangan yang mengasikan. Entah itu berupa bangunan tua yang tampak menakutkan, sementara jika bangunan tersebut berada di Kota Bekasi, rasa takut tersebut berganti menjadi rasa curiga. Curiga, jangan-jangan tempat tersebut dijadikan tempat untuk transaksi ilegal.

Belum lagi terkadang bisa menemukan tanah lapang dengan pepohonan rindang yang cukup luas. Membuat saya seperti membelah hutan. Maklum, saya belum pernah masuk/keluar hutan. Jadi, melihat puluhan pohon rindang di tempat yang demikian luas, bisa membuat saya berimajinasi tentang banyak hal.

Tak hanya itu, bahkan pemandangan sederhana saat naik motor, seperti melihat jemuran yang sedang menari-nari terkena angin saja bisa menjadi sesuatu yang asik saya perhatikan. Sungguh, kalau saya tidak menikmati pemandangan berbeda seperti ini, rasanya kapan lagi bisa saya saksikan?

Pernah juga saat naik motor, melewati sebuah tempat di wilayah kabupaten Bekasi. Dimana banyak orang mencuci baju di pinggir kali. Pemandangan yang sudah jarang ada di Kota Bekasi. Karena, mayoritas sudah banyak memiliki kamar mandi umum atau kamar mandi sendiri. Juga, pernah melewati rimbunan pohon bambu yang menghalangi cahaya mentari sehingga membuatnya tampak seperti hampir petang.

Yang membuat saya takjub adalah jalan alternatif dari Jonggol ke Bekasi. Bukan melewati Mekarsari, tapi lewat perkampungan. Di sana, ada surga tersembunyi. Surga bagi saya, yaitu pemandangan sawah nan hijau tanpa ada rumah di sisi kanan dan kirinya. Bahkan tak ada pom bensin, apalagi lampu jalan. Namun, jalan tempat kami lewati sudah permanen cor-coran. Jikalau melewati jalur ini pada malam hari, bisa dipastikan akan merasa seperti bukan di Bekasi. Karena, akan ditutupi kabut pekat dan kesunyian yang teramat mencekam sebab tak banyak penduduk yang lewat jalur tersebut.

3. Bisa Singgah Di Warung Kopi

Jika perjalanannya cukup jauh. Biasanya, saya dan partner bermotor akan sepakat untuk berhenti di warung kopi. Entah itu siang hari atau malam hari. Alasannya, jika siang hari, agar tidak begitu mengantuk dan menikmati secangkir kopi bisa mengembalikan energi akan lebih semangat lagi.

Namun, jika malam hari, kami akan mencoba mengecek apakah warung kopi tersebut benar atau hanya khayalan kami saja. Setelah itu, kami akan menikmati secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh sambil bertanya pada pengunjung lain, jalur yang lebih cepat menuju Bekasi.

Kenikmatan mengunjungi satu kedai kopi pinggiran ke kedai kopi lainnya adalah ketika menanti kopi tiba bersama pengunjung lain. Biasanya, di sana saya bisa mendengarkan banyak cerita yang dibagi oleh pengunjung lain. Entah itu supir truk, pengendara ojek online atau orang-orang seperti saya yang hendak pulang tapi mampir dulu.

Mungkin, ini yang disebut tukang nguping. Karena, saya menyukai cerita yang disampaikan oleh mereka ke teman mereka meski tanpa diketahui bahwa saya mencuri dengar. Ya, mau bagaimana lagi? Saya menyukai cerita. Saya menyukai bagaimana saya bisa mendapat pelajaran dari cerita mereka. Bahkan, saya berlatih menjadi pendengar yang baik sambil belajar menyaring segala cerita yang masuk secara diam-diam.

Kenikmatan lainnya saat naik motor adalah jika pemilik warung kopi ini tengah sendiri melayani kami berdua. Kemudian, beliau akan bercerita hal-hal sederhana yang menghangatkan suasana meski dingin sekalipun udaranya. Melalui cerita yang mungkin tidak memiliki pesan moral atau biasa saja, namun berarti bagi saya karena entah kenapa bisa terasa berbeda. Ada sesuatu dalam diri saya yang merasa bersyukur jika sudah diajak berbincang tentang hal remeh-temeh.

Penutup

Meski kini saya tak lagi mengalami mabuk saat menggunakan kendaraan mobil. Tapi, ada hal yang hanya bisa dirasakan ketika mengendarai kendaraan roda dua, yaitu menyalip jalur kecil di antara mobil-mobil yang bederet panjang. Iya, rasanya setiap menghadapi kemacetan, saya pasti selalu berpikir kalau mengendarai motor tentu akan sangat menyenangkan. Walaupun, itu berarti saya masih belum bisa menjalankan gerakan masyarakat untuk menghemat energi dan menggunakan transportasi umum.

Habis, mau bagaimana lagi? Kehidupan saya di atas motor sudah terlalu lama sehingga rasanya saya tak bisa lagi menghitung berapa banyak saya mengendarai motor dalam setahun.

Ketika menjadi boncenger di atas motor, saya selalu berkontemplasi dengan segenap pikiran yang bercokol di kepala. Memandang langit dengan sudut pandang berbeda, terkadang mendatangkan kalimat demi kalimat puitis yang membuat saya terheran-heran, mengapa saya menjadi sedemikian kreatif nan romantis dalam sekejap mata?

Menikmati perjalanan dan angin yang semilir, membawa saya pada kehidupan yang berbeda dan lebih dinamis. Saya seolah mampu bercengkrama dengan alam meski melalui bisikan angin yang terkadang malu-malu mampir dan membelai pipi. Setidaknya, saya bahkan pernah mendapati banyak pelajaran dari setiap putaran roda motor yang menjejak di aspal-aspal yang terkadang menyuguhkan lubang besar. Pelajaran yang tak saya temui di sembarang tempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *