Kereta Api Dari Masa Ke Masa Dalam Ingatan Saya

Kereta api
Dokumen Pribadi – Ipeh Alena

Kerata Api Dari Masa Ke Masa – Dulu, waktu saya masih duduk di Sekolah Dasar. Rasanya bahagia sekali ketika akan kembali ke Bekasi dari Batang naik kereta api. Seringnya, Bapak memilih naik bus karena berhenti di dekat rumah nenek di Batang. Sementara jika naik kereta, harus nyambung lagi dengan naik becak. Karena dulu kendaraan masih belum sebanyak sekarang. 

Yang saya ingat waktu naik kereta, ada loket khusus antri karcis yang bentuknya kecil. Kemudian, kami akan buru-buru masuk demi mendapat tempat duduk. Beberapa orang ada yang duduk terpisah dari keluarganya. Ada juga yang akhirnya duduk di koridor tempat pejalan kaki lewat. 

Sesekali, ketika berhenti di beberapa stasiun. Saya bisa merengek minta jajan pada Ibu. Entah itu makanan berupa sego pecel atau makanan lain. Terkadang, ada pula yang menjajakan mainan. Nanti, saat kereta jalan kembali. Ada yang turun, ada pula yang masih ikut lanjut. Kata Bapak, para pedagang itu kadang tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli karcis. Sebab, sudah kenal dengan petugas keretanya. 

Dan, satu pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Ketika saya naik kereta usai dari Batang. Saya pulang dalam keadaan sakit perut karena diare. Serangan rasa sakit semakin menjadi saat kereta api sudah jalan. Karena sudah tak tahan, akhirnya saya memutuskan untuk ke toilet kereta. 

Bapak menyerahkan satu botol air mineral kepada saya sambil menemani di depan toilet. Ini pengalaman baru bagi saya yang waktu itu baru merasakan gembiranya naik kereta. Saat masuk ke dalam toiletnya. Aroma tak sedap semakin menjadi. Dan, rupa di dalamnya sangat membuat tak nyaman. 

Saking tidak nyamannya, setelah pengalaman ini. Saya selalu meminta untuk pulang naik Bis saja kalau dari Batang. Tak kuasa rasanya harus berhadapan dengan toilet yang bentuknya menyeramkan. 

Kereta Sembrani Yang Membuatku Kembali 

Kalau ingin mengucapkan terima kasih. Akan saya sampaikan pada kereta Sembrani yang membawa saya ke Bojonegoro untuk pertama kali. Dari mulai pertama kali menjejak di daerah tersebut. Hingga pertama kali pula saya numpak kereta yang bikin nyaman. Iya, sudah pastinya karena harganya pun tak murah. 

Tapi, dari pengalaman ini pula saya mulai jatuh hati pada kereta api. Meski pengalaman saya menggunakan kereta api dari Cikini ke Depok pernah mengalami hal yang tak mengenakkan. Namun, ketika gebrakan regulasi kereta api Indonesia mulai terlihat. Hingga kehadiran KRL membawa nuansa yang menyegarkan bagi wajah per-kereta-api-an Indonesia. 

Kalau saya tak jatuh hati lagi pada kereta api. Mungkin, sampai saat ini pun masih akan enggan naik kereta api. Mau kondisinya sudah sangat sempurna pun kalau sudah tak cinta mau apa? Ehe… 

Hingga kemudian saya mulai ikut berburu kereta api ekonomi murah. Sangat murah. Waktu itu saya beli tiket kereta untuk ke Surabaya hanya Rp 65.000 saja! Dan, waktu itu mudah sekali mendapatkan kursi kosong. Sempat terlintas, apakah kondisinya akan seburuk waktu dulu? Apalagi, meski banyak sudah yang memberikan informasi bahwa kereta api ekonomi pun sama nyamannya dengan bisnis. Tetap ada kekhawatiran tersendiri mengingat saya masih takut dengan kondisi kereta api zaman dulu.

Punya Tiket? Silakan Masuk

Ternyata, kecemasan dan ketakutan saya tak terbukti. Sebab, dari awal saya datang ke Stasiun Pasar Senen saja sudah disambut dengan hal yang berbeda. Jika dahulu pintu masuknya tak begitu dijaga ketat. Sejak ada regulasi pemeriksaan penumpang sebelum masuk ke stasiun. Sudah jauh berkurang adanya penumpang gelap yang ikut masuk ke dalam stasiun. 

Peron di dalamnya hanya berisi para penumpang yang sudah membeli tiket. Pengantar sudah tak dibolehkan lagi masuk ke dalam. Cukup mengantar hingga pintu masuk saja. Dari regulasi inilah akhirnya terwujud keinginan masa lalu untuk memberi kenyamanan bagi penumpang yang memiliki tiket. Tak ada lagi drama rebutan kursi, karena di tiket jelas tertulis informasi gerbong dan tempat duduk para penumpang. 

Lapar Selama Perjalanan? Ada Restorasi Kereta

Dari banyaknya pengalaman orang-orang dulu berkisah mengenai perjalanan mereka menggunakan kereta api. Ada satu kisah yang terus tersimpan dalam ingatan saya. Harga makanan di restorasi kereta itu mahal dan tidak enak. 

Ingatan ini pula yang sempat membuat saya enggan membeli saat naik kereta api ekonomi Kertajaya. Meski beberapa kali ada penumpang yang langsung membeli makanan dan minuman hingga jajanan. Saya waktu itu masih enggan, sebab mindset saya masih menyimpan kepercayaan masa lalu. 

Namun, saat kereta baru saja bertolak dari Stasiun Semarang. Rasa lapar saya menggelora. Pasrah, akhirnya saya membeli paket nasi yang ditawarkan. Dengan setengah hati saya bertanya harganya. Ternyata, tidak semahal yang saya kira. Waktu itu paket nasinya dikenakan harga 25.000 yang sudah setara dengan paket nasi di tempat makan lain. Dengan lauk yang komplit dan ternyata rasanya enak. 

Pelayanan yang membuat saya akhirnya mulai menambahkan satu lagi poin tambahan. Apalagi, sejak tak ada penjaja makanan yang lewat di lorong kereta. Penyediaan jajanan dan minuman dengan harga wajar sangat dibutuhkan. Dan, sepanjang perjalanan saya cukup terperangah sebab sudah tak ada lagi penjaja makanan yang berdiri di pinggir stasiun. Kecuali, outlet makanan yang memang sudah disediakan dari pihak stasiun. 

Kereta Api
Dokumen pribadi – Ipeh Alena


Petugas Kebersihan Dan Kebiasaan Buruk Kebanyakan Penumpang Kereta Api

Ada lagi yang berbeda dari kondisi kereta masa lalu. Saat saya memperhatikan petugas kebersihan di kereta. Beberapa kali ia melewati lorong gerbong sambil menyapu, mengepel, hingga mengumpulkan sampah. Membuat saya terperangah. 

Karena, dahulu pun ketika saya naik kereta api Sembrani. Tak sering petugas kebersihan melewati gerbong sambil membersihkan lantai kereta. Sementara waktu itu, selama perjalanan. Saya hitung sudah empat kali sang petugas wara-wiri memastikan tidak ada sampah berserakan. 

Lorong kereta saja dibersihkan apalagi toiletnya. Itu pemikiran saya saat hendak menggunakan toiletnya. Memang tampak lebih wajar dibandingkan toilet kereta masa lalu. Sudah tersedia air untuk istinja. Ada pula wastafel untuk cuci tangan beserta sabun cair. 

Kebersihan ini sempat membuat saya kasihan dengan petugas kebersihannya. Sebab, masih banyak penumpang kereta yang membuang sampah sembarangan di lantai kereta. Padahal, sampah tersebut bisa dikumpulkan sementara di dalam plastik. 

Yang lebih disayangkan lagi adalah para pengguna toilet. Sebab, masih ada saja penumpang yang tidak menyiram usai menggunakan toilet. Terkadang, ada juga yang menghabiskan hampir setengah botol sabun untuk mencuci piring dan sendok yang dibawa, dalam jumlah yang cukup banyak. Padahal, sabun di kamar mandi hanya disediakan untuk mereka yang sudah selesai menggunakan toilet. 

Kalau memang darurat harus membersihkan atau mencuci sesuatu. Dan memang sangat darurat. Toh, bisa menggunakan sabun dalam jumlah yang wajar. Semoga kita bisa menjadi penumpang kereta api yang baik. 

Perburuan Tiket Kereta Api

Semenjak harga tiket kereta api ekonomi yang sangat terjangkau. Kemudian, kenaikan tiket penerbangan. Membuat pengguna kereta api bertambah. Berdasarkan data statistik pengguna kereta api Non Jabodetabek di pulau Jawa. Kenaikan penumpang kereta api mencapai 2.823 orang.

Tak heran jika tiket kereta api dari harga murah hingga mahal pun bisa cepat ludes. Bayangkan saja, terkadang tiket kereta menuju Surabaya sudah banyak yang habis. Terutama tiket ekonomi. 

Tersiar kabar kalau tiket-tiket tersebut sudah banyak diburu sejak tiga bulan sebelumnya. Wajar memang, karena harganya sangat murah dan pelayanannya maksimal. Sehingga, minat masyarakat untuk naik kereta mulai meningkat. 

Ini masih harga normal. Terkadang, ada lagi harga tiket kereta yang sangat murah dan membuat para Backpacker kelimpungan. Yaitu saat diadakannya festival transportasi. Biasanya, harga tiket yang ditawarkan sangat gila murahnya. Jangan dibayangkan bagaimana perjuangan bisa dapat tiket dengan harga murah seperti itu. Pastinya akan sangat mendebarkan. 

Wajah Baru Kereta Api Indonesia

Selain kereta api biasa, kemajuan moda transportasi darat ini mulai mendapat antusias masyarakat. Sejak kehadiran KRL, pengguna kereta meningkat. Tak lama berselang, teknologi kereta seperti MRT pun hadir di Indonesia. Membawa optimisme dalam urusan transportasi. Setidaknya, harapan saya, nantinya akan menjadi moda transportasi pilihan utama dibanding mengendarai kendaraan pribadi. 

Sebentar lagi pun, konon akan ada kereta cepat yang menghubungkan Jakarta – Bandung. Untuk memberi kemudahan bagi mereka yang butuh waktu tempuh yang cepat. Dan, jangan lupakan pula kereta khusus Bandara yang juga memberi akses mudah bagi masyarakat. 

Penutup

Terlepas dari isu-isu politik dan sindiran mengenai pembangunan. Saya sebagai pengguna setia kereta api. Meski masih belum mencicipi naik MRT. Tetap memiliki harapan optimis untuk perkembangan kereta yang lebih baik. Jangan sampai pelayanan yang ada saat ini menurun. Karena, sudah banyak penumpang kereta yang mulai jatuh hati. 

Saat ini, mungkin memang ada harapan saya yang masih tersimpan. Yaitu, keinginan untuk kembali mendapat tiket kereta api ekonomi dengan harga murah. Karena, sangat sesuai dengan kondisi keuangan saya yang ingin jalan-jalan tapi budgetnya terbatas. Namanya berharap, tak ada yang salah, kan? 

Kalau pembaca, ada nggak pengalaman unik waktu naik kereta api pertama kali? 

Informasi Tambahan

Website : Kementrian Perhubungan
Twitter : Kemenhub151
Facebook : Kemenhub151
Instagram: Kemenhub151

4 thoughts on “Kereta Api Dari Masa Ke Masa Dalam Ingatan Saya”

  1. Shovya says:

    Sayang sekali, saya belum pernah sekalipun naik kereta semoga nanti kesampaian..

    1. Ipeh Alena says:

      Amin, semoga bisa terwujud ya, kak. Salam kenal ya. Terima kasih sudah berkunjung

  2. nur rochma says:

    Salut aku pada perubahan besar perkeretaapian Indonesia. Dulu, di awal menikah saya beberapa kali naik kereta dari dan ke Jakarta. Saya ingat bangku kereta penuh, di bawah kolong ada orang tidur, di jalan juga. Aroma makanan kemana-mana. Tapi minggu lalu, hari Kamis saya berangkat dari Surabaya ke Jakarta naik Agro Bromo Anggrek. Pulangnya saya naik Kertajaya Premium, (turun di Bojonegoro) gerbongnya mirip Agro, cuma jarak bangkunya yang mepet. Untuk kelas ekonomi seperti ini sudah banyak perubahan. Sudah lebih bagus, bersih dan nyaman.

    1. Ipeh Alena says:

      Kertajaya itu kereta ekonomi pertama yang bikin daku merasa WAW karena kalau malem ACnya dingin banget 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *