Pemilu 2019 – Sebuah Catatan Pesta Demokrasi Dari Orang Awam

Pemilu 2019

Apa yang paling berkesan dari pemilu tahun 2019 ini? Saya mengingatnya sebagai hari dimana banyak orang benar-benar berusaha menggunakan hak suaranya. Ada yang sampai bolak-balik ke TPS karena tidak mendapat undangan. Dan, harus menggunakan KTP saja. Pun, tak sedikit yang harus kembali pulang karena kehabisan surat suara. Tapi, tidak sedikit yang benar-benar berusaha bangun pagi untuk bisa menggunakan hak suaranya padahal bertahun-tahun lamanya dia selalu menjadi tim golput.

Apa yang paling berkesan dari pemilu tahun 2019 ini? Saya mengingatnya sebagai hari dimana banyak orang benar-benar berusaha menggunakan hak suaranya. Ada yang sampai bolak-balik ke TPS karena tidak mendapat undangan. Dan, harus menggunakan KTP saja. Pun, tak sedikit yang harus kembali pulang karena kehabisan surat suara. Tapi, tidak sedikit yang benar-benar berusaha bangun pagi untuk bisa menggunakan hak suaranya di pemilu tahun ini padahal bertahun-tahun lamanya dia selalu menjadi tim golput.

Tulisan ini, sebuah kenangan yang ingin saya sampaikan pada generasi mendatang. Bagaimana kondisi pada masa ini dari awal hingga akhir. Saya tak ingin mencondongkan diri pada salah satu kubu. Karena, memang tak banyak yang berubah dalam diri saya usai pergantian presiden beberapa kali. Masih tetap begini-begini saja, kesulitan menurunkan berat badan.

Kampanye Dua Kubu

Yang saya ingat saat masa kampanye ini. Banyak orang yang saling caci dan memaki dengan tulus. Saking tulusnya, sampai ada keluarga yang hancur akibat berbeda pilihan. Jalinan pertemanan yang meregang karena gerah dengan pilihan kawannya. Tak sedikit pula adu mulut yang kerap saya dengar setiap nongkrong di mana saja.

Tapi, bahasan yang selalu membuat saya tersenyum acap kali nongkrong di warung kopi pinggiran. Bersama para supir truk dan pengendara ojek online. Mereka kerap berkata, “siapapun presidennya, saya masih tetap narik. Gak ada bedanya.” Demikianlah kehidupan saya juga banyak orang lainnya.

Tentu, pada setiap momen yang terasa panas membara. Ada hal lain yang menarik untuk diingat juga. Salah satunya, cara beberapa pendukung pasangan calon presiden. Mereka kerap membuat entah itu kampanye yang unik. Sampai lucu dan menggemaskan di linimasa media sosial.

Adanya Kasus Bullying Remaja Yang Viral

Di tengah panasnya situasi politik. Tiba-tiba saja netizen diguncang berita mengenai kasus bullying. Hingga tersebar petisi daring sebagai dukungan untuk korbannya. Banyak akun-akun yang berusaha untuk menyeritakan perkaranya. Ada yang bercerita begini dan begitu. Saya mengikutinya karena gemas. Gemas dengan perilaku ini.

Namun, yang paling mencengangkan adalah banyaknya warganet yang kemudian menyerang pelaku. Di akun Instagramnya, banyak yang mencaci dan memaki. Tak sedikit pula yang mengatakan hal-hal yang sangat mengganggu dan termasuk pelecehan. Seperti mengatakan, “ayo diperkosa ramai-ramai.” Atau komentar, “Coba sini kemaluannya saya colok juga.” Ini sesuatu yang membuat saya menjadi muak.

Rasa penasaran saya berkurang pada akhirnya ketika kemudian muncul video dari kepolisian. Mengatakan bahwa hal-hal mengenai luka di daerah kewanitaan yang disengaja itu tidak ada. Terkait demikian, banyak pula yang menanyakan hasil visum. Mengapa pemeriksaan begitu lambat dan banyak lainnya.

Tak lama berselang, muncul pemberitaan bahwa banyak kebohongan dari peristiwa ini. Seolah sedang dibagikan sebuah drama yang membuat banyak penontonnya lelah pada akhirnya.

Walaupun yang harus diwaspadai adalah tindakan bullying-nya. Meski ternyata, menjadi bukti bahwa tidak semua warganet mampu mengerti dan memahami apa dan bagaimana bullying itu.

Semoga saja dengan adanya kasus seperti ini. Pemahaman dan bentuk dari bullying itu seperti apa. Bisa diperjelas lagi. Sehingga dasar dan pemahamannya bisa dicerna oleh masyarakat luas.

Muncul Tayangan Dokumenter Berjudul Sexy Killers

Ini yang paling banyak dibahas. Baik pro maupun kontra-nya. Hal terbaik yang saya dapat dari menonton tayangan ini adalah keinginan saya yang waktu itu ingin golput. Mendadak berubah haluan. Saya ingin menggunakan hak pilih.

Bagi mereka yang kontra, tentu akan menganggap bahwa tayangan tersebut hanya sebuah bentuk cari muka para aktivis. Karena, masa penayangannya di saat masa tenang usai kampanye jelang pemilu 2019. Apa maksud dari semua ini? Tentu banyak orang mempertanyakan hal demikian.

Tapi, bagi saya tayangan ini cukup memberi saya banyak informasi.

Begini, saya sangat suka menonton tayangan dokumenter di saluran asing. Beberapa kali mereka menayangkan sesuatu yang relevan dengan situasi dan kondisi masa kini. Seperti tayangan mengenai hal apa yang membuat pertumbuhan obesitas meningkat tajam?

Ada pula tayangan Aircrash Investigation yang menayangkan kasus hampir mirip dengan tragedi Pesawat yang hilang di perairan dekat Karawang. Di hari yang sama, usai menonton tayangan televisi lokal yang memberikan informasi mengenai hal ini. Tak lama di malam hari, saluran khusus tv kabel menayangkan kasus serupa. Sangat mirip sampai saya bergidik ngeri karena kemiripannya bisa dikatakan cukup besar.

Terlepas dari ‘pintarnya’ cara mereka menjalankan aksi atau bisnis di saat yang bisa dikatakan tepat. Bagi saya pribadi, ada banyak hal yang bisa dilihat dari sudut pandang lain.

Dari film sexy killers ini, saya mengurungkan niat untuk golput. Pun kemudian kembali bersemangat untuk berusaha memanfaatkan listrik dengan baik. Berusaha untuk mengurangi penggunaan listrik dan kembali memaksakan diri. Untuk mengecek apakah ada perangkat elektronik yang tidak digunakan namun masih tersambung ke kontak listrik. Salah satunya kebiasaan buruk saya yang sering lupa mencabut pengisi daya gawai pintar dari kontak listrik.

Tim Petugas Dan Pengawas

Konon, di beberapa berita. Mengatakan kalau pesta demokrasi kemarin di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia.

Tak heran jika banyak yang berpendapat kalau pemilu kemarin seperti Hari Raya Lebaran namun tanpa ketupat. Bayangkan saja, jalanan di Jakarta dan Bekasi bisa sepi tanpa macet. Bahkan tak sedikit cerita yang saya dengar, penduduk yang memutuskan pulang kampung demi menggunakan hak pilih mereka.

Waktu yang cenderung singkat ini. Membuat banyak petugas dan tim pengawas mengalami sakit karena kelelahan. Bahkan, banyak pula yang meninggal dunia, qodarullah. Hingga MUI meminta untuk mengkaji kembali proses pemilu di Indonesia.

Memang tidaklah mudah bagi Komisi Pemilihan Umum di Indonesia untuk bisa mempercepat proses perhitungan. Mengingat wilayah Indonesia yang cukup luas. Ada banyak pula daerah pelosok yang masih sulit untuk dijangkau. Sehingga, penantian hasil memang membuat banyak orang berdebar.

Penutup

Sebenarnya, masih ada banyak hal lainnya yang belum tercatat. Seperti keriuhan antara data Quick Count. Penantian Real Count. Hingga kerepotan bawaslu menerima informasi ini dan itu.

Tak hanya itu, ada pula kabar dari beberapa teman yang bahkan tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Alasannya, mereka kehabisan surat suara sehingga pulang dengan tangan hampa. Sedih memang, ketika antusiasme masyarakat sedang tinggi, sedangkan fasilitas yang disediakan masih kurang memadai. Semoga di kemudian hari, pesta demokrasi seperti ini bisa lebih baik lagi.

Saya tidak rekam di sini. Karena, saya memilih untuk menunggu hasilnya sebulan lagi. Tentunya, siapapun presidennya semoga bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik lagi. Masyarakatnya mampu menjaga perdamaian. Dan, harga buku impor tak lagi mahal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *