Buku-Buku Cantik Di Komunitas Bookstagram

buku cantik

Buku adalah satu benda yang selalu saya kagumi. Entah itu karena isinya. Atau karena buah pemikiran si penulis yang membuat saya menganga. Buku pula yang pernah menemani saya di masa-masa penuh kegelapan. Buku juga yang membantu saya untuk terus berjalan di tengah pekatnya malam.

Membaca merupakan keahlian dasar manusia yang sudah dilatih sejak mereka kecil. Bahkan, sebelum mendaftar sekolah. Saya sudah dilatih untuk bisa membaca. Tentunya melalui proses yang tidak semenyenangkan seperti di iklan atau film.

Penuh cubitan dan omelan dari Ibu saya. Karena, saya termasuk anak yang lambat dalam belajar. Slow Learner, begitu istilahnya. Tidak sedikit saya merasa malas untuk membaca. Karena tahu akan dimarahi. Saya memilih untuk mewarnai laman yang saya baca. Paduan warna dan warni dalam sebuah buku, sejak dulu sudah menarik perhatian saya.

Siapa yang sangka kalau sekarang saya justru cinta membaca. Di antara anak-anak Ibu dan Bapak. Hanya saya yang senantiasa disindir, “beli buku lagi lu? Gak bosen apa bocah?”.

Tenang, sindiran segala macam jenis apapun. Tidak pernah membuat saya kapok apalagi bosan. Tapi, saya pernah mengalami kebosanan yang membawa saya pada pintu lain dalam kehidupan.

Tuhan menciptakan mata yang bisa digunakan untuk melihat segala bentuk keindahan duniawi. ~ @ipehalena 

Buku Sebagai Indikator Ada Sesuatu Yang Salah

Membaca bukan lagi sekadar hobi belaka. Tapi, memang setiap saya ditanya apa hobi saya. Akan saya jawab : Membaca Buku. Meski saya bisa dikatakan lebih membutuhkan buku.

Untuk menenangkan saya di tengah keramaian dunia. Di saat otak saya ricuh terhadap sesuatu yang tidak bisa saya katakan. Bukulah yang membantu saya untuk duduk tenang.

Walaupun bukan berarti bacaan tertentu akan membuat otak saya tidak lagi ricuh. Justru bisa memperkeruh pemikiran yang harus segera saya utarakan melalui tulisan.

Kekeruhan ini seperti ketika otak saya tengah bergelut mengenai Eksistensi Manusia. Kemudian, memilih membaca Colorless Tsukuru karya Haruki Murakami. Tentu, pertikaian dalam kepala saya berlangsung cukup sengit. Hingga sesaat sebelum saya menutup ulasan, tentang kehidupan Tsukuru Tazaki, kericuhan itu mereda dengan sendirinya.

Ada suatu ketika, saat hidup mulai menampakkan grafik naik turun. Saat itu grafik turun tengah menyapa. Tapi, saya tak menyadarinya. Sapaan itu datang perlahan sekali. Bagai angin yang sepoi-sepoi menyapa. Membelai dengan penuh kelembutan tanpa meninggalkan jejaknya. Hingga, ketidak-sadaran itu membuat saya mengalami hal besar dalam hidup.

Kehilangan semangat membaca hingga kehilangan dalam banyak hal. Membuat saya serasa terjatuh dalam lubang yang tidak menyajikan apapun. Selain kehampaan dan kesunyian. Gelap dan tak berbentuk. Hingga kemudian, satu persatu Allah membantu saya untuk menanjak. Melalui batu-batu pijakan yang sama rapuhnya.

Saat itulah saya ‘bertemu’ dengan satu buku yang ditulis oleh seorang pengajar di Universitas Gadjah Mada. Namanya Jujun S. Sumiasumantri yang menulis Filsafat Ilmu. Di dalamnya, beliau menuliskan dasar pengetahuan filsafat sebelum masuk ke dalam ilmu lain. Apa yang menarik bagi saya adalah didalamnya ini diajarkan untuk mengenal siapa kita.

Kita adalah manusia yang tak hanya butuh makan dan minum. Tapi, butuh sebuah ilmu yang membantu kita mengenal diri kita sendiri.

Setiap lembar dari tulisannya yang kecil dan rapat. Membawa saya pada titik dimana saya melihat secercah cahaya. Saat itulah kemudian, ada sesuatu yang berbeda dalam diri saya. Saya memiliki banyak kacamata yang bisa saya pakai saat menghadapi dunia.

Dari indikator yang dikirimkan oleh tubuh saya. Mulailah saya mengenal kapan saya membutuhkannya yang membuat saya merenung dan berpikir. Kapan pula saya butuh yang ringan dan bisa membuat saya tertawa. Juga, kapan tepatnya saya membutuhkan yang bisa saya caci maki sampai habis bersama teman saya.

Bagaimana Saya Memilih Buku

Dulu, saya memilih buku yang banyak berisi gambar. Salah satunya komik atau manga. Karena, memang saya suka sekali dengan gambar. Warna. Juga ekspresi dari tokoh-tokoh di dalamnya.

Karena itulah, ketika pertama kali saya mengenal novel. Adalah ketika saya membaca Me VS High Heels. Ini pertamanya saya mencoba membaca novel. Kala itu novel ini baru terbit dan belum ada informasi akan diangkat ke layar lebar.

Yang saya rasakan saati itu adalah saya tahu kalau saya butuh baca novel lagi. Karena, tidak cepat selesai. Selain itu, format berupa teks memungkinkan imajinasi saya melanglang buana. Dari situlah saya mulai mencari yang sesuai selera. Kebanyakan saya berselera pada novel berbau fantasi.

Meski di kemudian hari, setelah saya memutuskan untuk membaca dari genre berbeda. Hingga berusaha untuk membaca bacaan dari penulis berbeda. Selera saya mulai berubah. Saya lebih sering memilih yang mengangkat issue tertentu. Entah itu tentang eksistensi manusia. Atau tentang perisakan.

Tapi, tidak dipungkiri pula. Kalau saya sering pula terpincut membeli karena sampulnya.

Sampul Buku Cantik Dan Kesadaran Penerbit Akan Keindahan Pada Buku

Sekitar tahun 2014, saya dan teman-teman sesama pembaca buku. Pernah mendiskusikan mengenai pengaruh sampul buku dengan keinginan membaca buku tersebut. Hasilnya, memang tidak dapat dipungkiri. Kala itu penerbit besar Penguin. Mengeluarkan sampul khusus buku-buku klasik yang sangat cantik sekali.

Kecantikan pada sampul disertai format sampulnya yang Hardcover. Membuat saya menginginkan untuk mengoleksinya. Apalagi saat itu saya juga baru-barunya membaca klasik. Sehingga, semangat saya menggebu untuk bisa membelinya.

Dari banyaknya perbincangan sampai harapan yang sering kami gaungkan ke beberapa penerbit. Mulai muncul Penerbit Spring yang waktu itu menyajikan buku terjemahan dari karya Asia. Dengan sampul yang lucu dan manis. Sehingga saya percaya kalau di Indonesia akan ada masa dimana buku memiliki sampul yang cantik.

Dan, kini masa itu sudah tiba. Banyak yang memiliki sampul cantik dan lucu. Sehingga membuat orang yang melihatnya pun senang untuk membacanya. Penerbit mayor mulai berlomba-lomba menyajikannya dengan sampul menarik. Meski tetap saja, faktor isi di dalamnya tersebut menjadi keputusan akhir apakah buku itu layak dibaca atau tidak.

Hal yang paling saya nantikan adalah kehadiran kembali Penerbit Balai Pustaka. Setelah sempat hiatus dan hampir gulung tikar. Penerbit yang banyak mengeluarkan karya-karya berbobot seperti ini. Sangat disayangkan jika sampai tutup. Tapi, saya juga berharap Balai Pustaka akan menerbitkan ulang karya sastranya dengan kemasan yang cantik dan enak dikoleksi.

Karena unsur keindahan pada sampul merupakan sesuatu yang bisa memanjakan mata sang pembaca. Jadi, wajar saja kalau banyak pembaca yang gandrung dengan sampul tertentu. Seperti saya yang beruntung mendapatkan novel Circe dari sebuah giveaway.

Bisa Menjadi Daya Tarik Untuk Pembaca Baru Di Komunitas Bookstagram

Bookstagram itu komunitas yang cukup besar di Instagram. Kebanyakan penggunanya merupakan mereka yang senang dengan dunia buku. Entah itu hanya sekadar suka memotretnya. Sampai menjadikannya media untuk menuliskan ulasan atau opini tentang sebuah buku.

Kebutuhan akan buku cantik tentunya bisa membuat foto yang dihasilkan tampak enak dipandang. Apalagi jika dikombinasikan dengan merchandise ala bookish item yang menarik. Tentu akan tambah memanjakan mata.

Tapi, di lingkungan Instagram yang saya kelola. Banyak sekali pembaca yang menawarkan banyak pilihan menarik. Buku yang beragam membuat saya memiliki pengetahuan beragam pula. Apalagi semenjak bergabung di komunitas khusus membaca dalam negeri. Membuat saya semakin semangat untuk mencapai impian untuk membaca 1000 buku sejak 2016 yang lalu.

Bagi para orangtua yang memiliki impian agar anaknya mau membaca buku. Ada beberapa hal yang saya rasakan selama menjadi pembaca. Semoga saja ini bisa berguna untuk pembaca.

Tips Agar Anak Senang Membaca Buku

  • Jika mereka masih kecil. Mulailah mengenalkan mereka buku yang bisa dibacakan setiap hendak tidur.
  • Percayakan pada anak-anak untuk berkenalan langsung dengan memegang buku tersebut.
  • Biarkan anak yang memilih cerita mereka sendiri. Tidak perlu dipaksa bahwa ceritanya harus begini dan begitu sesuai dengan teksnya. Bebaskan dulu agar mereka terbiasa.
  • Ajarkan pula anak-anak cara merawat dan memperlakukan buku. Agar suatu saat ketika mereka besar, tak ada lagi orang yang seenaknya merusak buku yang dipinjam.
  • Biarkan mereka memilih jenis buku yang ingin dibaca. Jangan dipaksa untuk langsung membaca buku dengan banyak tulisan. Meski usianya sudah besar. Dulu, saya kesal sekali kalau Ibu saya memaksa saya membaca koran. Padahal saya lebih senang cerita bergambar.
  • Jadilah pendengar yang baik saat anak Anda bercerita tentang buku yang dibaca. Tunjukkan antusiasme yang membuat mereka akhirnya semakin semangat untuk membaca cerita.

Penutup

Sekarang ini, mulai banyak pula beberapa kelompok musik seperti BTS. Yang bisa memengaruhi penggemarnya untuk membaca. Beberapa penerbit bahkan mulai menyetak buku yang dibaca oleh mereka. Atau buku yang merupakan favorit anggotanya.

Seperti juga ada penerbit yang menerbitkan buku yang dibaca oleh Mr. Kim di drama Why Secretary Kim. Dengan begitu, harapan agar Indonesia bisa naik peringkat sebagai Negara dengan Tingkat Literasi yang baik bisa terwujud.

Written by

Blogger – Reader – Writer – Amateur Photographer – Reviewer – Buzzer For more information about me kindly please visit this link : About on Top Menu. Bussiness Inquiry or more information please send your email to : ipehalena@gmail.com .

Leave a Reply

%d bloggers like this: