The Greatest Showman Film Menarik Yang Masih Asik Ditonton Tahun 2019 Ini

The Greatest Showman

Mengikuti jejak A.J. Fikry, dalam merasa dan meresapi sebuah film. Terkadang, film yang bagus dan mampu dikenang dalam waktu lama ditemukan di waktu yang tepat.

The Greatest Showman Film Menarik Yang Masih Asik Ditonton Tahun 2019 Ini

Sebut saja pertemuan pertamaku dengan The Greatest Showman dikarenakan waktu yang tepat. Ketika film tersebut banyak disebut-sebut di linimasa. Sampai ketika saya menyaksikan tayangan langsung penghargaan film di saluran internasional. Tak ada sedikit pun rasa ingin menontonnya.

Namun, beberapa hari yang lalu, keinginan tersebut muncul akibat pertemuan yang tak disengaja serta ,mungkin, waktu yang tepat. Kemunculannya dikarenakan rasa ingin tahu pada diri saya mengenai sebuah lagu yang sempat saya dengar sekilas. Tak tahu menahu apa judul dan siapa penyanyinya. Hanya berbekal beberapa potong lirik saja, saya dibantu Google dan juga Youtube untuk mencari tahu.

Pencarianku berakhir pada video musik James Arthur berjudul Rewrite the Stars. Meski sempat saya bingung saat itu, kenapa aransemen musik yang saya dengar sekilas agak berbeda dengan lagu yang dinyanyikan Arthur ini. Hingga kemudian saya baru tahu, kalau penyanyi versi film adalah Zac Efron dan Zendaya. Dari lagu keduanya-lah, kemudian timbul rasa penasaran ingin menonton film tersebut.

Menonton Film The Greatest Showman Melalui Google Play Movie

Awalnya, sempat saya mencari tayangan online film ini dari penyedia nonton gratisan yang tidak resmi. Namun, entah kenapa, ada banyak sekali kendala yang saya temui. Pada akhirnya, saya memutuskan mencarinya di Play movie dan ternyata apa yang saya cari ada di tempat ini. Meski disayangkan, tidak ada versi Rent untuk film ini. Hingga saya menimbang lagi harus berbuat apa.

Rasa penasaran mungkin yang harus disalahkan atau justru disanjung? Entahlah. Karena, terlalu penasaran inilah, saya nekat membeli film tersebut di Play movie seharga Seratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah. Jumlah yang sangat, teramat, tidak sedikit. Tapi, saya bisa menonton sepuasnya, bahkan ketika jaringan tengah lambat sekalipun.

Ketika dihitung kembali, tampaknya saya tidak perlu menyesal, karena memang tidak ada penyesalan. Sebab, saya bisa mengajak keponakan dan kakak-kakak saya, menonton film ini bersama. Bagaimana caranya? Saya menggunakan browser chrome untuk masuk ke Play movie dimana laptop yang saya gunakan sudah tersambung dengan HDMI ke televisi. Jadi, tayangan ini bisa ditonton bersama-sama saat malam minggu kemarin.

Baca Juga :

Itulah kenapa saya tidak menyesal, karena jika dihitung kembali, biaya Seratus Empat Puluh Lima Ribu Rupiah tak akan sesuai dipakai untuk menonton sebelas orang, pastinya akan lebih banyak mengeluarkan biaya tambahan. Dan, malam minggu kami dipenuhi dengan musik-musik dari Drama Musikal film The Greatest Showman.

Catatan tambahan : saya menggunakan laptop karena ternyata fitur Cast menonton dari handphone dibatasi penggunaannya oleh Play Movie. Jadi, tidak ada pilihan lain selain menggunakannya melalui Laptop dengan bantuan sambungan kabel HDMI.

The Greatest Showman Movie

Judul : The Greatest Showman || Sutradara : Michael Gracey || Produser Tim : Laurence Mark, Peter Chernin, Jenno Topping || Penulis Skrip : Jenny Bicks, Bill Condon || Ide Cerita oleh : Jenny Bicks || Diperankan oleh : Hugh Jackman, Zac Efron, Michelle Williams, Rebecca Ferguson, Zendaya || Olah Musik oleh : Pasek and Paul (songs), John Debney (score), Joseph Trapanese (score) || Sinematografi : Seamus McGarvey || Tim Editor : Tom Cross, Robert Duffy, Joe Hutshing, Michael McCusker, Jon Poll, Spencer Susser || Diproduksi Oleh : Laurence Mark Productions || Didistribusikan oleh : 20th Century Fox || Rilis di US pada : December 20, 2017 || Durasi : 105 minutes || Negara : United States || Bahasa : English

Diangkat dari sosok yang nyata, seorang lelaki bernama Phineas Taylor Barnum yang merupakan seorang penghibur di sirkus terkenal pada masanya, juga seorang pengusaha yang cukup sukses. Dalam film ini, dikisahkan terjadi pada abad ke-19 di New York.

Barnum, seorang anak penjahit yang miskin. Ayahnya memiliki pelanggan orang-orang yang kaya, salah satunya Ayahnya Charity. Pada suatu hari ketika mereka berkunjung ke rumah keluarga kaya raya ini, Barnum melirik Charity yang tengah berlatih tata krama di meja makan. Sambil menggodanya dengan lelucon yang dia tunjukkan hingga membuat Charity dimarahi oleh sang Ayah dan Barnum mendapat tamparan keras di pipinya.

Keduanya sering berkirim surat usai keputusan ayahnya Charity untuk menyekolahkannya di tempat lain, di luar desa tempat mereka berada. Dari setiap surat yang mereka kirim, kehidupan Barnum diperlihatkan dari mulai kematian sang Ayah, hingga bagaimana dia harus hidup seperti anak-anak jalanan yang mencuri makan serta bekerja apa saja demi tetap hidup.

Akhirnya, keduanya menjadi sepasang suami istri dan memiliki dua orang anak perempuan bernama, Caroline dan Helen. Mereka hidup dengan cara yang sangat sederhana, sementara Barnum masih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, hingga suatu ketika kehidupannya dihadapkan pada kondisi menyakitkan, perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan dan seluruh karyawan dipecat.

Sebagai seorang kepala rumah tangga, Barnum tidak ingin menyerah dan putus asa. Dia berusaha untuk terus bangkit. Membeli sebuah museum dari hasil pinjaman Bank. Kemudian, berusaha mengajak orang-orang di sekitar mereka untuk datang ke museum mereka. Hingga kemudian tercetus ide untuk mengumpulkan orang-orang aneh yang akan menjadikan museum yang bertemakan “keanehan” ini cukup banyak dikunjungi orang pada akhirnya.

Pertunjukan sirkus pun banyak dikenal di kemudian hari. Mendatangkan banyak pengunjung yang membutuhkan hiburan, hingga Barnum dikenalkan oleh seorang penyanyi opera bernama Jenny Lind. Kesuksesan di dunia hiburan pertunjukan, membuat Barnum mencoba untuk meraih kesuksesan dari kalangan atas dengan menjalin kerjasama dengan Jenny Lind. Dan, betul saja, seorang kritikus yang gemar sekali mengomentari aksi pertunjukan yang diadakan oleh Barnum, kemudian memberikan komentar positif tentangnya.

Barnum tidak sendiri dalam mengelola dunia hiburan ini, dia bekerja sama dengan Bailey. Seorang anak bangsawan yang sukses menampilkan sandiwara teater pada masa itu. Kebanyakan penontonnya adalah orang-orang dari kelas atas. Bailey pula yang membantu tim sirkusnya menghadap Ratu Inggris, dengan memanfaatkan koneksinya dari kalangan bangsawan. Mereka berdua kemudian menjadikan bisnis tersebut mencapai kesuksesannya.

Tapi, kemudian semua yang sudah dibangun dengan susah payah harus mengalami kegagalan, Barnum mengalami kebangkrutan akibat tidak fokus dengan bisnis yang dijalani. Hingga kemudian, dia dihadapkan pada pemikiran-pemikiran tentang alasan mendasarnya menjalankan bisnis tersebut.

Drama Musikal

Kalau suka dengan film-film drama musikal seperti High School Musical atau La La Land, tentu akan menyukai juga film ini. Yang menurut saya, semua lagu-lagunya tidak ada yang tidak menarik. Padahal, saya cenderung pemilih dalam menyukai sebuah lagu. Mungkin karena lirik lagu-lagu yang ditampilkan di sini memiliki arti dan pesan yang sungguh dalam.

Tentunya ditampilkan pula gerakan-gerakan, yang kalau Anda gemar menonton film India, tentu tidak akan aneh karena memang kebanyakan film India jenisnya Drama Musikal (dimana ada drama dan adegan menyanyi serta menari). Hal yang paling membuat saya tertarik adalah betapa luwesnya gerakan Hugh Jackman menari dan berdansa.

Apalagi, saya mengenal Hugh sebagai sosok Wolverine pada mulanya. Yang kemudian mengantarkan saya pada film-filmnya yang lain seperti Van HelsingFlushed Away, serial X-MenRise of the GuardianKate and LeopoldPanReal Steel hingga Les Miserables. Itu beberapa yang sudah saya tonton, yang paling berkesan sebelum The Greatest Showman adalah Real Steel, ikatan antara Bapak dan Anak ini benar-benar memukau dan memesona.

Latar Belakang Yang Cukup Sesuai

Begini, film ini mengisahkan tentang New York aka Amerika pada abad ke-19. Tentunya, pada masa itu perbudakan dan rasis masih sangat teramat kental, meski sampai saat ini seperti tidak ada perbedaan. Belum lagi, masa-masa tersebut masih kental dengan masa depresi akibat perang. Yang membuat kalangan atas tampak teramat kaya dan orang miskin semakin menderita hingga terlihat bahwa kesuksesan pada waktu itu membutuhkan usaha yang lebih ekstra.

Pada film ini, kondisi rasis yang ditampakkan adalah kehadiran Anne Wheeler sebagai penari akrobat bersama kakaknya dimana keduanya merupakan orang kulit hitam. Dimana hal ini cukup banyak menjadikan keduanya tidak bisa banyak diterima oleh masyarakat sekitar. Selain itu, pengasingan orang-orang yang bagi masyarakat tidak layak berada dalam strata sosial mereka, selalu berusaha dienyahkan. Sehingga konflik sering terjadi antara anggota sirkus dengan masyarakat sekitar.

Tidak hanya itu, bagi penonton yang ingin sedikit merasakan bagaimana kehidupan zaman dahulu, tentu akan merasa cukup puas karena transportasi hingga secara keseluruhan kehidupan dalam film ini benar-benar dibuat sedemikian rupa menyerupai kehidupan pada masa abad 19.

Bahkan kendaraan pemadam kebakaran pun tampak mengejutkan bagi sebagian penonton yang baru tahu seperti apa bentuknya pada masa itu.

Baca Juga :

Pementasan Sirkus

Siapa disini yang pernah menonton sirkus? Saya masih ingat, waktu itu pernah diajak sekali dalam seumur hidup saya, menghadiri pertunjukan sirkus saat masih teramat kecil. Saya ingat, waktu itu menyaksikan para penari dari Cina, menggerakkan piring dengan bambu kecil sambil menari. Melihat seorang gadis yang tubuhnya sangat lentur. Hingga terpana dengan aksi penari akrobat yang melayang-layang di udara.

Bersyukur tentunya, saya pernah menyaksikan pertunjukan tersebut. Hingga kemudian film ini membawa saya pada kenangan masa lampau. Dahulu, di Bekasi ada acara Pameran Pembangunan yang tampak seperti festival pasar malam dimana lampu-lampu gemerlap menghiasi tempat tersebut. Tapi, di festival ini tidak hanya ada mainan untuk anak-anak, tapi ada beberapa tenda-tenda yang menyediakan informasi bermanfaat.

Salah satunya, tenda tertutup yang ternyata berisi perlengkapan seorang penyiar radio. Saya pernah masuk ke dalam ruangan tersebut dan disapa dengan hangat oleh salah seorang penyiarnya. Dimana, kemudian hari memang menjadikan saya bercita-cita sebagai penyiar radio.

Tidak hanya itu, saat menonton film ini, kemudian melihat beberapa pemeran yang mengingatkan saya pada sosok Nasrul, orang yang katanya Wajahnya ada dua, hingga sosok Jenglot yang waktu itu sedang marak dipertontonkan di Bekasi. Meski kemudian banyak orang mengomentari aksi ini sebagai tontonan tak mendidik karena menampilkan kekurangan orang hanya untuk tontonan dan pengeruk keuntungan belaka.

Bagi Anda yang suka juga membaca buku, mungkin bisa mencoba membaca The Night Circus karya Erin Morgenstern, karena di dalamnya ia menggambarkan dunia sirkus seolah keajaiban yang nyata.

Phineas Taylor Barnum

Putting people of all Shapes, Sizes, Colours. Putting them on stage together and presenting them as equals, another critic might have even called it a celebration of humanity. ~ The Greatest Showman

Kesuksesan film ini membuka satu informasi yang tak banyak orang mengetahui, tentang keberadaan Barnum dan tim sirkus yang dikelolanya. Pun membawa saya berselancar di mesin pencari hingga menemukan beberapa hal yang ternyata diadaptasi sedemikian rupa hingga tampak benar-benar merepresentasikan kehidupan Barnum.

Ada beberapa foto yang terselip di mesin pencari, anggota-anggota dari sirkus yang dikelola Barnum. Yang membuat saya kembali teringat dengan kutipan si kritikus dalam film ini. Sebuah selebrasi kemanusiaan yang berarti sangat teramat dalam karena juga merepresentasikan kondisi yang masih relevan mengenai perbedaan dan jurang pemisahnya.

PT Barnum
sumber : The Human Marvels
PT Barnum
sumber : The Human Marvels
PT Barnum
sumber  : Boredom Therapy

Penutup

Film ini sangat teramat mengesankan bagi saya. Terutama lagu-lagu yang dinyanyikan oleh setiap pemain di sini. Bagi yang penasaran, aktor dan aktris yang menyanyikan sendiri lagu mereka di film ini ternyata memiliki suara yang sangat mengagumkan. Seperti Hugh JackmanZac EfronZendayaKeala Seattle hingga Michele Williams, mereka menyanyikan sendiri lagu-lagu yang ada di film ini.

Lirik lagu yang dinyanyikan pun berulang kali saya tuliskan, memiliki lirik yang teramat menyentuh. Bertemakan Perbedaan, Penerimaan, Usaha Untuk Mencapai Impian hingga Bagaimana Menerima Diri Sendiri dan Betapa Pentingnya Memiliki Impian. Semua itu disajikan dengan musik yang riang dan menyenangkan, meski ada beberapa lagu yang tampak sedih namun tetap asik didengar.

Selain itu, sosok Hugh Jackman disini tampak begitu memesona dengan senyumnya yang khas. Dimana membuat saya terpana adalah semua gerakan tarian yang ada di film ini benar-benar ditampilkan sendiri oleh Hugh Jackman. Ini saya tahu karena mencari Behind The Scene di Youtube dan menayangkan sederet video yang berkaitan dengan pembuatan film ini.

Menariknya lagi, saya baru benar-benar mengetahui kalau Michelle Williams itu bisa bernyanyi dan suaranya cukup renyah didengar. Penampilannya yang saya ingat itu di film Oz the Great and Powerful. Kenapa? Karena gaya bicaranya yang cukup unik, bagi saya. Gerakan bibirnya saya berbicara itu berbeda dari artis lainnya. Itu pula yang membuat saya langsung bisa mencirikan sosoknya berada di film Venom.

Selebihnya, saya tak bisa berkata-kata karena sepanjang menonton film ini pertama kali, mata saya basah karena terharu. Dimana beberapa kondisi dalam cerita ini sedang sesuai dengan kondisi kehidupan saya. Itulah kenapa saya mengatakan film ini saya tonton di saat yang tepat. [Ipeh Alena]

Adakah film yang pernah ditonton pada saat yang tepat atau saat yang benar-benar menyerupai kehidupan Anda di beberapa kondisinya?

Written by

Blogger – Reader – Writer – Amateur Photographer – Reviewer – Buzzer For more information about me kindly please visit this link : About on Top Menu. Bussiness Inquiry or more information please send your email to : ipehalena@gmail.com .

Leave a Reply