Zero Waste Sebuah Program Untuk Mengurangi Penumpukan Sampah Dan Mengelolanya Dengan Baik

Zero Waste Lifestyle

Semakin banyak akun-akun yang menggerakkan program mengurangi sampah dengan membagikan konten berisi cara menangani sampah di rumah agar lebih optimal. Tentunya, gerakan ini pasti menuai pro dan kontra bagi sebagian orang. Namun, kalau dilihat kembali, tidak ada salahnya menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Zero Waste Sebuah Program Untuk Mengurangi Penumpukan Sampah Dan Mengelolanya Dengan Baik

Pernah saya sedikit terkejut ketika jadual pengambilan sampah di kawasan tempat saya tinggal ini berubah. Awalnya, saya tidak mengetahui, pada waktu itu, kendala yang dihadapi oleh para petugas kebersihan. Namun, saat saya menyaksikan tayangan berita ternyata ada antrian yang cukup panjang dari mobil-mobil dinas kebersihan menuju TPA Bantar Gebang.

Rumah saya lokasinya dekat dengan TPA Bantar Gebang dan beberapa kali melewati wilayah ini. Saya sendiri tidak bohong, cukup terkejut ketika melihat bukit sampah untuk pertama kalinya. Namun, sayangnya saat itu saya masih belum juga sadar untuk tidak membuang sampah secara asal-asalan. Dalam hal ini, bukan berarti saya suka membuang sampah sembarangan. Allhamdulillah, saya tidak pernah membuang sampah sembarangan sejak saya duduk di kuliah tahun pertama. Alasannya saat itu, untuk mendidik diri saya, siapa tahu nanti bisa berlama-lama di luar negeri dan tidak perlu mengalami pengalaman buruk hanya karena buang sampah sembarangan.

Sayangnya, meski saya tak pernah buang sampah sembarangan, karena pemahaman saya terhadap sampah masih sangatlah sedikit. Akhirnya, saya menjadi orang yang tidak tahu cara memanfaatkan sampah yang bisa didaur ulang. Dan, ketika ada gerakan serupa beberapa tahun lalu, sempat saya mulai mengurangi penggunaan plastik. Meski kemudian gerakan ini seperti terlupa kemudian tak lama sudah mulai menggema lagi. Semoga bisa terus diterapkan.

Karena saya masih belum memiliki pemahaman yang baik mengenai pengelolaan sampah yang tepat. Saya hanya ingin bercerita tentang proses yang sesuai kemampuan saya sampai saat ini. Semoga saja ke depannya saya bisa segera merealisasikan keinginan untuk ikut serta dalam workshop masalah pengelolaan sampah ini.

Memisahkan Sampah Sesuai Jenisnya

Ini berawal bukan dari gerakan pengelolaan sampah. Tapi, karena saya menemukan fakta baru tentang masyarakat Jepang yang tinggal di apartemen dan sampah sehari-hari.

Kalau bukan karena saya rajin jalan-jalan menggunakan Google Earth, sepertinya saya tidak akan menyadari sesuatu, kalau di sepanjang perjalanan saya di berbagai prefektur yang ada di Jepang tidak tampak tempat sampah seperti di negara lain. Entah itu berbentuk drum atau plastik atau bahkan tempat sampah permanen. Tidak ada. Saya tidak menemukannya, atau mungkin memang sayanya saja tidak melihat.

Dari rasa penasaran inilah akhirnya saya mencari tahu di mesin pencari dan berakhir di salah satu blog milik seorang mahasiswa yang menceritakan pengalamannya selama mengenyam pendidikan di Jepang serta kehidupan sehari-harinya. Dari ceritanya saya baru tahu kalau sampah di Jepang diambil setiap hari, namun perlu diketahui kalau SETIAP SAMPAH PUNYA JADWAL BERBEDA.

Begini, sebelum sampah dikumpulkan ke dalam satu tempat. Mereka harus memisahkan sendiri sampah-sampah mereka. Sampah sehari-hari seperti bekas makanan di kantung terpisah. Sampah botol, sampah plastik, kardus, kertas dan segala macam jenis sampah dipisah dalam kantung berbeda. Jika tidak dipisah, bisa dipastikan sampahmu tidak akan diangkat. Dan, ini akan berakibat pemilik apartemen memberikan denda padamu.

Setelah sampah di pisah dan dimasukkan ke dalam kantung khusus, maka yang harus dilakukan adalah mengecek jadualnya. Misal, hari senin yang diangkut adalah sampah kertas, hari selasa sampah plastik, begitu seterusnya. Sementara sampah sisa makanan tetap diangkut setiap hari.

Dari pengetahuan inilah akhirnya saya belajar memisahkan sampah sesuai jenisnya ke dalam kantung sampah yang saya dapat dari diskonan Maret Mantap. Meski nantinya tetap berujung dijadikan satu tempat, tapi setidaknya ini sudah melatih saya membedakan jenis sampah. Serta, hal ini juga tidak mudah terutama saya sering malas, tapi karena saya sedang proses untuk mengusahakan, jadilah saya paksa diri saya agar tidak malas memisahkan sampah.

Zero Waste Lifestyle

Membawa Tempat Minum Sendiri

Sebagai pengendara motor yang rajin menyusuri jalanan dengan kendaraan roda dua. Saya pernah mengalami dehidrasi saat cuaca sedang terik-teriknya. Pasalnya, waktu itu, sepanjang perjalanan tidak saya temui pedagang minuman. Pun, kalau ada, saya sudah curiga duluan apakah yang dijual air mineral asli atau malah oplosan.

Akhirnya, keputusan untuk membawa air minum sendiri dimulai sejak saat itu dari hasil mantengin Kalender Promo Tokopedia. Hingga kini, ketika gerakan Zero Waste juga mengajak para pengikutnya untuk mulai membawa tempat makan dan minuman sendiri dari rumah.

Yah, walaupun saya juga masih sering membeli minuman kemasan, tapi sekarang sedikit dikurangi. Bukan sekadar karena banyaknya sampah yang menggunung saja, tapi juga memang usia saya tidak lagi muda, jadi sudah harus banyak mengurangi makanan dan minuman kemasan.

Zero Waste Lifestyle

Belajar Menanam Tanaman Sendiri

Ini juga saya mulai bukan karena gerakan menghijaukan bumi. Tapi, gara-gara stok jahe, bawang sampai kunyit di rumah sering kering dan hampir busuk sebelum dipakai. Alhasil, saat saya melihat video tentang menjaga agar jahe sampai kunyit tetap bagus saat ingin digunakan, pun seketika saya praktekkan.

Caranya sangat mudah, setiap habis beli jahe atau kunyit, langsung saya benamkan di dalam tanah dan siram setiap hari. Nanti, ketika saya butuh, bisa langsung saya ambil saja. Efek yang saya rasakan adalah saya merasa senang ketika ada daun yang tumbuh dari salah satu pot, entah itu pohon dari Jahe atau Kunyit. Maklum, saya tidak mengetahui dengan baik nama-nama pohon.

Yang sedang saya pelajari saat ini setelah mempelajari mengenai Zero Waste adalah menanam beberapa sisa sayuran yang masih bisa dimanfaatkan. Seperti bonggol sawi putih yang ternyata masih bisa ditanam lagi. Atau kentang yang juga masih bisa ditanam kembali. Saat ini masih belum tampak sih perubahannya. Tapi, pohon cabai hijau besar yang saya tanam sudah mulai tampak, hehe.

Cita-cita saya saat ini adalah ingin punya lubang biopori sendiri. Biar mudah membuang sisa-sisa makanan yang ternyata lebih banyak jumlahnya pada kantong sampah harian di rumah.

maret mantap

Mencuci Dengan Sabun Alami

Ada yang kenal lerak? Ini saya juga baru tahu sejak gerakan Zero Waste dicanangkan. Baru tahu apa itu lerak dan manfaatnya. Nah, sejak tahu itu saya langsung coba mencuci menggunakan lerak tanpa sabun cuci dengan campuran pewangi (masih pakai pewangi pakaian kemasan, sih).

Hasilnya sih saya tidak melihat perubahan yang WAW atau malah WEW. Maksudnya, tidak ada keburukan atau kelebihan dari hasil saya mencuci dengan lerak. Tapi, memang jadi lebih hemat sepertinya, keuntungan menerapkan Zero Waste. Meski beberapa kali, mungkin memang saya yang masih belum paham benar cara mencuci dengan lerak, akhirnya lerak-lerak tersebut justru sering rusak. Saya butuh cari tahu cara penyimpanan yang baik dan benar untuk lerak-lerak itu sepertinya.

Penutup

Karena memang saya masih sangat minim ilmu mengenai pengurangan sampah dan pengelolaan sampah rumahan. Tapi, tidak membuat saya berhenti untuk ikutan dalam gerakan positif ini. Walaupun juga belum bisa optimal dalam mengurangi sampah hingga bebas dari sampah, tapi setidaknya sudah berusaha semampu saya.

Saya juga mulai membiasakan diri mengikuti gerakan Tumpuk di Tengah, usai melihat video yang menjelaskan apa dan bagaimana serta manfaat gerakan tersebut. Sekarang saya bersyukur, setidaknya sudah beberapa kali pegawai rumah makan pinggiran berterima kasih dan tersenyum usai saya makan di tempat mereka. Meski mungkin ini perasaan saya saja, tapi tak mengapalah. Toh, gerakan positif.

Jadi, apakah Anda sudah melakukan beberapa hal yang sesuai dengan kegiatan pengelolaan sampah? Kalau punya informasi berguna mengenai pengelolaan sampah, boleh juga diinfokan di kolom komentar.

Written by

Blogger – Reader – Writer – Amateur Photographer – Reviewer – Buzzer For more information about me kindly please visit this link : About on Top Menu. Bussiness Inquiry or more information please send your email to : ipehalena@gmail.com .

3 comments / Add your comment below

  1. Sampah itu makin hari makin menggunung. Bikin sedih. Di daerahku, di bibir pantai itu rata-rata menjadi tempat berakhirnya sampah. Akibat kiriman dari laut, dan karena masyarakat pesisir yang sulit diedukasi tentang kebersihan.

Leave a Reply